Mentari mulai berani menambah suhunya di siang ini, sinar kekuninganya menyelorot menembus ke sela-sela jendela kos Amar yang sudah mulai termakan oleh rayap. Sinarnya mencoba mengilatkan wajah Amar seraya membangunkannya dari lelap sejak pukul sebelas tadi. Tapi tetap saja ia tak terganggu, malah menarik selimut biru bergaris hitam yang bergambar lambang salah satu klub liga Italia menaiki lehernya. Sebelum sampai ke wajah, mata bertutup kantung itu mulai menggerak-gerakan bola matanya menyapu ke seluruh sisi mata. Lalu sedikit demi sedikit kantung itu mulai membuka dan bola mata coklatnya mulai tampak.
Tangannya mulai menggeragapi meja yang berada di sebelah kanannya mencari alarm yang coraknya juga sama dengan selimut lusuhnya. Tapi tak kunjung tangannya mendapatkan, sampai akhirnya ia harus membuka penuh mata berbola coklat itu.
“Jam 2? Astaghfirullah, pelajaran Pak Amir.”
Seperti terpecut sebuah tampar, ia segera beranjak dari kasur tipisnya dan memakai jeans abu dan segera menenteng tas hijau sedangnya. Dubrak, suara pintu dibantingnya lumayan keras, dan ia mulai memakai sepatu tua kesayangannya.
“Aku belum sholat” katanya ragu melanjutkan langkah kakinya setelah sampai di dekat sebuah musholla kecil tak terawat
Ia menoleh pada jam tangannya, lalu menoleh lagi ke arah musholla, terus seperti itu layaknya sebuah “kok” yang terus dipukul oleh Simon Santoso dan Lin Dan dalam pertandingan bulu tangkis. Kaki memintanya untuk melangkah pergi segera menuju kampus. Tapi hatinya menolak, ia melepas sepatunya dan bergegas mengambil air wudhu dan menghadap sang Ilah.
“Siang Pak, maaf tadi saya ketiduran,” ucapnya sambil mengecup takzim tangan Pak Amir.
“Silakan duduk,” jawab Pak Amir datar.
Hari ini terasa begitu tak teratur hidupnya, begitu lusuh dan terasa sangat hambar bagi anak semester lima jurusan jurnalistik di salah satu universitas berbasis Islam di Jakarta ini. Salah, bukan hanya hari ini tapi sejak Senin sore tanggal 15 itu. Pikiran dan pikirannya lagi masih saja terus berkutat pada kejadian yang menurutnya sangat menguras hati.
Terus terngiang, bahkan masuk ke dalam sel-sel mimpinya itu. Kata- kata tajam yang terus menusuk lambung hatinya.
“Kalau kuliahmu malas-malasan mau jadi apa, Mar? Memang, ibu tidak pernah mengorientasikan bahwa kuliah itu untuk mencari kerja, bukan itu. Tapi yang ibu harapkan adalah bagaimana engkau menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain terutama orang-orang yang ada di sekitarmu, apalagi orang-orang yang menyayangimu dalam hal pemanfaatan ilmu. Bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain, bagaimana cara berbagi kebahagiaan dengan orang lain, apalagi penggunaan ilmumu. Bagaimana engkau akan dapat melakukan itu semua, jika hanya membuat makalah saja tidak engkau jalankan, bahkan untuk sekedar mengisi absen keaktifan masuk kelas saja menjadi hal yang paling berat bagimu.”
Ibunya, kata-kata itu keluar dari lisan ibunya saat Senin sore seminggu yang lalu, ketika dia sekedar menyandarkan punggung sejenak di rumahnya, di Jakarta Timur.
Kalau diingatnya terus, mungkin dia akan menangis, hal yang menurutnya aneh dan belum pernah ia lakukan semenjak menjadi mahasiswa baru di Fakultas Komunikasi.
“Apakah ini sudah benar-benar fatal Tuhan?”
Semalaman suntuk dia tak tidur, asap rokok masih saja mengepul memenuhi ruangan dari bibirnya yang berwarna hitam kecoklatan. Masih saja dikenangnya hal itu, yang kadang kala menyempitkan otaknya untuk berpikir selain hal itu. Atau pelampiasannya adalah sepanjang malam jari-jarinya terus menerus memetik gitar lamanya dan bahkan tak peduli dengan teriakan tetangga kosnya yang memarahinya karena suara petikan gitar tak jelasnya itu membisingkan telinga.
Matahari terus menyengat ketika pukul tujuh muncul, sinarnya juga tak mau kalah berlari dengan orang yang bergegas pergi mencari sebongkar emas untuk sesuap nasi, ia terus memanas dan mengerang dengan posisinya yang terus di atas langit. Biarlah terus matahari seperti itu, karena pagi ini terasa berbeda bagi bujang yang berambut ikal ini. Dia lebih harum dan rapi, apalagi sejak saat ini dia akan mulai membuka matanya lebih pagi, walau hanya untuk sekedar berolahraga.
“Semoga, Engkau selalu ada bersamaku Tuhan, walaupun Engkau pasti tahu bagaimana kenakalanku,” pintanya tulus.
Ia berjalan santai menuju kampus, karena pagi ini dia bangun lebih pagi, 30 menit dari kemarin. Sekedar memutar matanya, melihat pengamen jalanan yang tak karuan dandanannya, dia berujar pada Tuhan dengan sedikit kekhusyukan.
“Apa Engkau akan mengizinkan aku seperti itu Tuhan?”
Segera dia enyahkan pikiran itu, dan mulai berlari kecil memasuki gerbang kampus.
“Mar, aku punyak proyek baru nih,” sapa seorang teman tiba-tiba sesaat setelah pelajaran usai dengan senyum sumringah.
“Proyek? Proyek apa, Ar?” tanya Amar yang tak tahu apa-apa.
“Jadi tim sukses salah satu cagub,” jawab Ardi dengan nada mantap.
“Aku tak mau,” Amar juga menjawanya mantap.
“Loh, kenapa? Kita bisa memakai uangnya untuk membeli rokok, makan gorengan sepuasnya, bahkan bayar uang semester kita,” cerewet Ardi.
“Bisakah aku bertanya padamu tentang suatu hal?”.
“Tentu saja, aku akan segera menjawabnya, Mar,” tanggap Ardi.
“Apakah kau tahu, bagaimana latar belakang pengalaman politik mereka? Dan apakah kau tahu bagaiman visi dan misi mereka untuk Jakarta kita ini?” Amar mulai serius.
“Haha, kau menanyakan hal bodoh. Tentu saja aku tidak tahu, dan kemungkinan besar adalah bahwa banyak orang yang ada di balik punggung seorang Cagub tidak peduli tentang hal itu, karean aku sendiri melakukannya adalah karena butuh uangnya,” ujar Ardi.
“Kalau begitu, aku semakin yakin untuk tidak menjadi tim sukses salah satu dari mereka”.
“Tunggu, bagaimana maksudmu?,”Ardi sama sekali tak bisa mencerna kata-kata Amar.
“Bukankah kita sudah lebih dari 20 tahun hidup di negara ini, Jakarta khususnya? Aku tak ingin keadaan yang seperti ini terus berjalan dan bahkan menjadi warisan bagi cucu-cucu kita. Aku tak pernah menganggap buruk orang-orang yang ada di belakang seorang cagub, tapi hal kecil yang aku kecewakan, dan hal ini bisa menjadi bom bagi diri kita.”
“Aku makin tidak mengerti dengan omonganmu,” nada Ardi makin meninggi.
“Coba saja ketika kita jadi tim sukses dari seorang cagub, padahal dia bukanlah seseorang yang pantas. Bukankah kita akan hanya menyumbang kebrobokan bagi daerah kita sendiri? Dia akan menghancurkan kota kita ini karena kesalahan kita yang mendukungnya. Bukankah ketika memilih seseorang bukan karena uang, tapi adabnya? Kita boleh tak peduli pada dari mana asal daerahnya atau seberapa lama dia memimpin, tapi bagaimana kualitasnya? Tidakkah kau bosan Ar, hanya umbaran janji tanpa realisasi?,” jelas Amar.
“Jadi, kau melarangku untuk jadi tim sukses? Arggh, engkau terlalu munafik Mar, aku hanya butuh uang untuk hidup di kota kejam ini,” muka Ardi tambah merah padam.
“Tentu saja bukan teman, aku justru akan mendukungmu lebih dari seratus persen ketika engkau memang memilih dengan hatimu. Maafkan aku Ar, bukan bermaksud untuk bersikap lebih pintar darimu, tapi aku kan memilih jalan lain untuk mencari uang, dari pada hanya sekedar menyumbang kebrobokan bangsa. Aku yakin, engkau bisa memilihnya”.Diakhiri senyum dan menepuk pundak Ardi.
Ardi hanya diam, sepertinya dia sedang berpikir, matanya terlihat kosong, dan hanya meninggalkan ruangan yang hambar. Mungkin perkataan Amar masih dalam pencernaannya. Perlahan, bayangan Amar hilang dari sudut kelas.
Kali ini langkah kaki lelahnya mengantarkan Amar pada komunitas yang memang sejak dulu dia ikut menjadi anggotanya, sebuah UKM olahraga. Sejak SMA dia memang getol sekali kalau diminta untuk memegangi raket dan melakukan pukulan-pukulan keras dengan kok, smash. Ini bisa menjadi salah satu obat penawar baginya di kala dunia terasa memakinya dan mencoba meruntuhkan segala keyakinannya.
“Eh Mar, ada kejuaraan bulu tangkis tanggal 30 nanti, kampus yang menyelenggarakan. Berminat ikut?,” Dedi membuka pembicaraan.
“Sepertinya tidak, aku sedang ingin menikmati permainanku sendiri dengan raket dan juga kok milikku.”
“Ya sudahlah, aku hanya berbagi info saja. Apalagi hadiahnya beasiswa berupa gratis biaya selama 2 semester,” Dedi mencoba kembali mempengaruhi.
Amar hanya tertawa ringan, ia beranjak dari kursi kayu dan meminjam sebuah gitar hitam milik teman satu UKM dan bernyanyi bebas.
“Apa kabar negeriku
Masihkah engkau menangis tersedu
Aku takkan memakimu
Aku takkan mengeluh karena keadaanmu
Tapi aku akan bersedih jika semuanya melakukan itu
Tanpa ada usaha membuatmu tersenyum bahagia“.
Jeng jeng.
“Eh eh, tunggu tunggu! Apa maksudnya lagu itu?,” pemilik gitar bersorai.
“Aku kadang bingung, banyak orang yang mencaci Indonesia, mengelu-elukan keadaannya. Bisanya cuma mengeluh dan berdemo, tapi tak pernah mau memajukan negeri ini. Maunya menuntut terus, tapi mereka sendiri tidak mau ikut andil mengatasi masalah negeri ini. Sudahkah mereka belajar dengan baik, sudahkah mereka profesional dalam bekerja, isinya menuntut kenaikan gaji terus, bahkan ruang kerjapun minta diganti bak hotel bintang lima. Sudahkah kita memberikan sesuatu yang berharga untuk negeri ini? Jangan salahkan negara, tapi bertanyalah pada diri kita dulu, sudahkah kita memberikan kontribusi pada negeri ini? Membayar pajak saja malas, bagaimana kita mendapatkan hak? Siapa yang memilih wakil-wakil rakyat yg sekarang ini bisa tidur seenaknya saat sidang, kita bukan? Kalau mau menyalahkan, salahkan sajalah pada mereka yang tak menjaga amanat”.
“Sedang tidak sakitkan?,” Dedi tiba-tiba nyeletuk.
“Hhhh? Aku sehat-sehat saja, Di.”Amar menjawab santai.
“Tumben kata-katanya bagus,” pemilik gitar mencoba menggoda Amar
Seperti tadi, Amar hanya tertawa ringan. Dia harus segera beranjak pergi meninggalkan tempat pelipur laranya agar bisa mengikuti kuliahnya Bu Hani, dosen Manajemen Industri Media Massa di Fakultas Komunikasi.
Amar yang biasanya duduk terpaku melihat keluar jendela, kini sedang benar-benar memahami ulasan dari sang dosen. Dan saat Bu Hani meminta maju salah satu anak didiknya untuk menyampaikan pendapat tentang perkembangan media massa Indonesia, Amar tak segan-segan mengawali teman-teman sekelasnya untuk berdiri tegak layak seorang salesman yang sedang menjelaskan keunggulan barangnya.
“Cie Amar, tumben maju….”
“Wihh, Amar sekarang beda ya….”
Ia langsung menghamburkan badannya ketika sampai di kos sempitnya. Matanya mulai menatap atap-atap langit yang cat putihnya mulai berbecak hijau karena gempuran jamur yang begitu banyak, dan kadang kala ia memandangi lampu bercahaya kuning yang merupakan tempat tinggal laba-laba untuk sejenak. Atau sekedar mengurai rambutnya di atas kasur agar terlihat lebih banyak.
“Sudahkah aku berubah, Tuhan? Ku awali ini dengan keterpaksaan, tapi mungkin aku sudah mulai menyukainya dan semoga selanjutnya pun begitu, menyukainya. Mungkin saja ini efek pecutan yang begitu sakit mengenai tubuh ini, tapi aku beruntung ketika Engkau mengizinkanku untuk berubah, walau mungkin di awal hanya sekedar jadi pengemis lalu menjadi penjual gorengan. Thanks, God“.
Dia mungkin akan begitu terlelap dalam tidurnya malam ini, atau sekedar memimpikan ibunya tersenyum kecil. Tapi, sepertinya kebahagiaan barunya akan dimulai dari sini yang akan berpengaruh besar dalam hidupnya.
Hari ini Pak Amir mengganti jam paginya di siang hari, jadi dia bisa sejenak beristirahat setelah pagi tadi keliling kampus untuk berolahraga. Ia terlihat sedang menyelam begitu dalam pada sebuah foto lusuh. Salah, itu bukan foto lusuh, tapi foto usang yang sudah dia simpan sejak semester satu, sejak tahun 2010 akhir. Bergambar wanita berkulit kecoklatan dengan kerudung merah muda yang begitu anggun dengan tatapan manja. Dia, seorang gadis yang berada dalam foto usang tersebut, adalah Reni. Gadis yang berparas manis lagi cerdas.
“Mar, tunggu,” ada suara pelan yang memanggilnya ketika dia akan naik lift setelah beranjak dari kosnya.
“Eh Mirna, ada apa Mir? Ada yang bisa aku bantu?,”jawab Amar polos.
“Ada surat dari Reni, katanya dia sengaja menulis ini supaya hanya kamu dan kertas ini saja yang tahu rahasianya”.
“Hhhhh? Aku tak mengerti,” kebohongan kecil mulai dia ucapkan.
“Kamu tak perlu mengerti sebelum surat ini akan mengucapkannnya padamu”.
Mirna membuat kepalan tangan Amar terbuka menerima surat dari seorang wanita yang sudah ia kagumi sejak 27 bulan yang lalu. Lalu Mirna beranjak pergi.
“Mir, tunggu sebentar.”pinta Amar untuk sejenak Mirna menghentikan langkahnya
“Iya, kenapa Amar?”
“Sampaikan pada Reni, bagaimana aku bisa membahagiakan wanita yang lain, kalau ibuku sendiri belum bisa aku bahagiakan. Satu lagi, aku akan menyimpan dan membingkai surat ini dengan mimpi dan hatiku,” Amar tertunduk.
Mirna sempat tertegun, tapi hanya membalas dengan sebuah senyum yang begitu tak terlihat. Dan Amar? Ia masih memutar-mutar surat dari Reni ketika sudah masuk lift.
“Tuhan, aku tahu Engkau mentakdirkan yang terbaik untukku, Amin.”
Ia hilangkan jauh-jauh pikirannya dari Reni, meskipun itu begitu membuat pilu hati dan jiwanya. Dia sadar bahwa sekarang ini bukanlah saat yang tepat untuk merealisasikan sebuah kata yang terdiri dari rangkaian lima huruf, cinta. Tapi, adalah tentang bagaimana ia mengatur hidupnya untuk mencapai cinta yang lebih dari satu, ibu dan juga makmumnya kelak. Bukan hal yang mudah ketika dia harus berkelahi atau berjalan melawan arus nafsunya, tapi dia percaya bahwa semua akan indah pada waktunya, tanpa dia harus memaksa untuk memintanya sekarang.
“Di, aku mau ikut turnamen itu? Daftarnya dimana?,” keputusan Amar setelah dua hari mengistirahatkan pikirannya.
“Gampang itu, nanti aku anterin kamu ke sana”.
Tiba saatnya, tanggal 30. Penonton sudah begitu riuh di lapangan olahraga kampus. Mereka sudah tak sabar lagi menyaksikan para jagoan badminton mengeluarkan smash-smash tangguhnya. Terlihat Amar dari bilik pintu masuk lapangan, berkaos putih dipadu celana hitam pendek.
“Bismillahi tawakaltu ala Allah,“ doanya mantap.
Benar memang, kehebatannya dalam bulu tangkis patut mendapat tepuk tangan yang cukup meriah karena keberhasilannya menuju perempat final.
Dan di laga selanjutnya, dia berhasil juga masuk semi final, yang akhirnya juga dia menang dan masuk final.
Tepat tanggal 8 pukul 10.23 WIB pertandingan dimulai. Kali ini suara penonton sudah tak tertahan lagi, benar-benar riuh. Wajar memang, karena memang banyak smash yang terjadi ketika Amar melawan Dandi, anak semester 3 jurusan Hukum Internasional.
“Dandi Dandi,” sorak-sorai mahasiswa fakultas FISIP membahana.
“Amar, Amar,” lebih kencang suara anak UKM olahraga dan Fakultas Komunikasi yang bercampur juga dengan mahasiswa Fakultas Humaniora yang dikoordinir Dedi.
Semakin lama semakin riuh saja keadaan lapangan, apalagi pertandingan babak ketiga ini yang begitu menguras keringat dua pemain tangguh ini.
Ketika skor di babak ketiga ini 23 untuk Amar dan 22 untuk Dandi, tak terelakkan lagi ketegangan di saat Amar menyemash kok dengan cukup keras. Dia hanya menutup matanya dengan dua tangan yang sebelah kanannya memegangi raket. Rasanya Amar tak berani melihat.
Tujuh detik, penonton bersorak sorai bertepuk tangan dan meneriakkan namanya.
“Amar Amar Amar Amar,” semakin lama semakin keras.
Dedi berlari ke lapangan dan memeluk erat tubuh kecil Amar. Dia hanya bisa pasrah dan bergembira karena pelukan temannya yang berbobot itu. Dengan segera Amar berlalu pergi, ia tak ingin menghabiskan kebahagiaanya di lapangan saja, tapi juga dengan wanita yang paling ingin ia bahagiakan, ibu, seorang wanita paruh baya yang tak pernah lelah menasehatinya.
“Ibu, lihat Amar bawa apa?,” sesaat ketika dia sampai di rumahnya di Jakarta Timur.
“Apa ini. Amar?,” tanya beliau yang tak tahu apa-apa.
“Itu hadiah kemenagan Amar”.
“Menang apa? Kamu bukan menang lotrekan?”.
“Tentu saja bukan Bu, Amar menang kejuaraan bulu tangkis. Ibu tahu hadiahnya?,” teriaknya bahagia.
“Apa itu?,” ibu penasaran.
“Amar bebas biaya selama 2 semester, Bu,” tambah Amar berbahagia.
”Alhamdulillah,” ibu tiba-tiba menitikan air mata.
Lalu Amar memeluk beliau erat dan penuh kehangatan.
“Ibu tak pernah menuntutmu untuk mendapat prestasi akademis, hanya saja bagaimana memanfaatkan ilmu. Tapi hari ini kamu membuat prestasi yang membuat ibu tak bisa menahan untuk mengeluarkan air mata kebahagiaan,” kata beliau lirih ketika masih dalam pelukan hangat Amar.







0 comments:
Posting Komentar