Pikiranku masih mengawang-awang, berpikir tentang apa yang sebenarnya aku pikirkan. Apa ada yang masih mengganjal? Iya, tapi soal apa? Aku berpikir keras. Keras. Barulah sehari kemudian aku mengetahui kejanggala itu. Ah, ternyata pelatihan empat hari itu yang telah berakhir beberapa hari yang lalu masih melekat kuat di pikiran. Bukan hanya soal materi, tapi kisah-kisah baru- yang ternyata baru kusadari- telah mengisi beberapa cerita hidupku yang mungkin bisa kuceritakan kelak pada anak cucu.
Pagi dengan seringai sinar srengenge, aku dan rombongan berangkat ke sana, sebuah bukit perkemahan nan sejuk yang berada di pinggiran Jakarta. Sebuah bis kopaja sudah menunggu kami di ujung gang. Sepanjang perjalanan lagu Roar milik Katy Perry terus saja dilantunkan. Bosan dengan itu-itu saja, aku mengatupkan mulutku sebentar mencoba mengait-ngaitkan bait yang tadi malam kudengar. Sebuah lagu mendayu dari Chrisyepun tak urung kunyanyikan.
Penggalan bait itu terus menemaniku sepanjang jalan. Entah kenapa, tapi kupikir kisahku tak setragis itu. Aku bahkan tak tahu, untuk siapa kudendangkan tadi. Ah, barangkali aku hanya terbawa suasana.
Bebarengan dengan jam makan siang, kami tiba di tempat tujuan. Lingkungannya begitu asri, bahkan ada kolam tempat pemancingan ikan di sini. Namun lupakan saja, ini bukan liburan tapi pelatihan. Ingat itu. Kami rehat sejenak sembari panitia menyiapkan tempat untuk pembukaan acara.
Nyatanya acara empat hari itu justru terkesan sebagai penutup liburan sebelum aku kembali ke Kebumen. Meski banyak ditempa materi, toh, justru yang kuingat bukanlah itu sepenuhnya. Nyata-nyata yang ada di ingatanku adalah kenangan-kenangan bersama kawan-kawan baru. Dan baru kusadari terselip tawa yang melebihi rasa seorang teman.
Kala itu masing-masing dari kami mengobrol bersama teman-teman lain. Kebanyakan dari kami baru saling mengenal kecuali yang sudah berada di satu komunitas sebelumnya.
"Hai baju ungu. Nama kamu siapa?" sapanya mengawali obrolan kami. Senyumnya sangat manis ditambah warna kulit langsatnya, dia terlihat makin manis dan sedap dipandang.
"Aku Merry." Kami lanjutkan dengan obrolan sederhana. Dia, Nina, dan aku saling mengakrabkan diri setelah itu.
Jumlah laki-laki di sini lebih banyak dari perempuannya. Ada Anwar, Zahid, Musthofa, dan banyak yang lain. Kami semua saling mengakrabkan diri, terlebih jika dituntut kerjasama tim. Emmm ngomong-ngomong, ada peristiwa lucu yang paling kuingat saat itu.
Hari kedua saat matahari hampir tenggelam, kami disuguhkan game-game oleh para panitia. Mulai dari meniup balon lalu harus kami duduki sampai meletus hingga permainan "cari teman". Dalam permainan "cari teman", kami diharuskan menutup mata dengan kain, kerudung, atau semisalnya. Setelah masing-masing dai kami menutup mata, panitia mulai mengatur ulang tempat berdiri kami. Setelah itu, kami mendengar Kak Ratih, gadis berperawakan kecil dengan suara lantang, mengumumkan nama tim sekaligus siapa yang harus kami cari.
"Kelompok kucing. Ada Merry dan ...".
Itu tandanya aku harus siap mengeong sepanjang langkah gontai yang aku buat karena mata ditutup.
"Meong meong. Meong meong...."
Dari kejauhan kudengar suara meongan. Aku bergegas mencari sumber suara sambil terus menirukan suara kucing. Suaranya makin dekat saja. Grek, tanganku mencegkram salah satu anggota tubuhnya yang kuperkirakan adalah bagian pundaknya.
"Meong meong," kataku menyapanya.
"Meong meong," dia menjawab.
Ah lucu sekali saat itu, geli jika harus membayangkan kembali bagaimana caraku mengeong seperti kucing "meong".
Setelah menemukan tim yang ternyata harus berpasang-pasangan., kami diminta membuka penutup mata. Senyumku terus mengembang saat itu karena aku sudah menemukan partner dan tak perlu lagi menirukan suara kucing. Aku tak berpikir jauh kemana-mana. Santai, ini tinggal membuka mata saja pikirku.
"Yeaay...," berteriak lalu seketika aku melongok. Aku berteriak tepat di depan wajahnya yang kira-kira hanya berjarak 20 cm. Issshhh malu, kupikir pundak yang kupegang tadi mengarahkan dia untuk membelakangiku, tapi aku salah perkiraan. Kami berhadap-hadapan. Dengan wajah penuh sungkan, aku memaksa mengembangkan senyum. Beruntung, tak ada satupun teman yang memperhatikan kami.
"Hai, Merry, " dia membuka pembicaraan. Kujawab dengan senyum. "Hehehe," dia tertawa kecil. Kenapa?"
Aku diam, lagi-lagi aku hanya tersenyum. Dia kembali memberiku senyum. Hanya ada senyuman di sana.
Malu sekali, untung saja itu hanya berlangsung dalam game karena pada jam-jam materi, duduknya agak jauh dari tempatku. Namun seringkali saat kita bertemu, entah mencuci tangan setelah makan atau mengambil air minum, dia menghiasi bibirnya dengan senyum yang menawan.
"Halo Merry," jujur aku agak deg-degan. Apalagi dia sempat memergokiku menuang terlalu banyak air di gelasku saat dia mengurai senyum padaku.
Dia bukan orang yang segan menolong. Beberapa kali dia menolongku membawa ember berisikan air penuh untuk mandi atau sekedar menyapa mengucapkan "halo". Ah, aku belum lupa sampai sekarang. Sampai pelatihan itu telah berakhir beberapa hari yang lalu.
Dia sempat memberiku nomor teleponnya, mungkin dia malu jika harus meminta nomorku duluan. Batinku.
"Barangkali kita bisa mengobrol, jika kamu tak sibuk."
Tentu saja aku tak sibuk. Tidak. Aku bersorak-sorai dalam hati penuh kemenangan. Ku timang-timang nomor pemberiannya. Haruskah kuhubungi segera. Aku ingin. Ya, aku ingin. Bahkan sekali.
Tetiba aku teringat, ingatanku meluncur padanya. Pada pria jangkung berambut ikal yang sudah dua tahun ini aku mengikat setia untuknya. Dia yang tidak aku tahui, apakah mencintaiku. Namun kurasa, setiaku ini tidak mengizinkanku untuk memikirkan hal itu lebih dalam. Aku setia. Ya aku setia. Tuhan meridhoi kesetiaanku, itu sebab kenapa aku masih bertahan dengan "setia" ini tanpa berpikir apakah dia punya perasaan serupa. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk mengganti "setia" dengan orang baru.
Ya, aku terlahir untuk setia padamu. Setia sebagai wanita yang mungkin kelak akan jadi jodohmu....
Kusimpan nomor itu ke dalam laci dan mulai tidur memimpikan lelaki dua tahun lalu itu. Aku berbahagia dengan setia. Sesuatu dan banyak hal yang aku hubungakan dengan setia.






0 comments:
Posting Komentar