Cerita ini bermula ketika gangguan tenggorokan mulai menyerang saya sejak beberapa bulan yang lalu. Saya sering membuang air ludah yang bercampur dahak setiap waktu. Dulu sering berpikir kalau hal ini merupakan sesuatu yang sangat wajar, tapi lama kelamaan saya merasa terganggu juga.
Beberapa keluhan sempat terucap dari lisan atau ada luapan kemarahan yang pernah saya keluarkan ketika gangguan tenggorokan ini tak kunjung berakhir. Kakak yang mendengar serta melihat sendiri bagaimana ini sangat mengganggu diri saya, akhirnya menyarankan untuk pergi ke dokter.
“Cobalah periksa ke dokter tentang sakitmu ini,” saran Kakak.
Sering kali saran itu saya abaikan karena menurut saya sakit ini akan bisa sembuh sendiri nantinya tanpa perlu ke dokter. Namun dugaan saya salah, gangguan ini terus berlanjut sampai beberapa bulan. Karena tidak tahan dan merasa sangat terganggu, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke dokter.
Siang itu saya tanpa ditemani kakak pergi ke rumah sakit milik universitas yang memang selain untuk masyarakat umum, terbuka juga bagi para mahasiswa. Sebenarnya bukan dengan alasan apa-apa saya memilih untuk berobat di sini. Sebagai mahasiswi saya haruslah berhemat, oleh karena itu memutuskan untuk pergi ke rumah sakit negeri merupakan pilihan terbaik, apalagi milik universitas sendiri yang notabene para mahasiswa bisa mengeluarkan biaya lebih murah bahkan gratis.
Setelah mendapatkan nomor urut periksa, saya langsung naik ke lantai dua tempat di mana dokter tersebut praktek. Hanya beberapa menit berselang, terdengar nama saya dipanggil melalui pengeras suara. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja saya menuju ruangan dokter umum. Di situ saya keluarkan semua uneg-uneg mengenai gangguan tenggorokan yang sudah sejak lama saya alami. Tetapi nihil sekali hasilnya ketika dokter bilang bahwa penyebab semua gangguan itu hanyalah alergi. Bukan apa-apa sebenarnya, tetapi ketika seseorang berkunjung ke dokter untuk berobat tentu saja dia bermaksud untuk mencari solusi juga pemecahan atas sakitnya, bukan hanya ingin tahu penyebabnya saja. Karena masih penasaran, beberapa pertanyaan saya munculkan namun jawabannya tetap itu-itu saja.
Di hari yang lain, saya ke rumah sakit itu lagi dengan keluhan yang berbeda. Sampai saat itu, saya masih menaruh harapan bahwa saya akan mendapatkan pelayanan yang lebih baik daripada yang kemarin dari pihak lembaga pelayanan kesehatan publik yang satu ini. Ketika itu kebetulan dokter yang sedang berdinas berbeda dengan dokter yang sebelumnya.
“Jadi begini Dok, kalau kena air dingin badan saya jadi bentol-bentol dan bengkak. Bahkan ketika makan es krim, bibir saya ikut bengkak dan kaku. Itu kenapa ya, Dok?” panjang lebar saya.
“Yaaa, itu alergi,” jawab beliau singkat.
“ Alergi, Dok? Lantas saya harus bagaimana?” karena masih penasaran, akhirnya pertanyaan muncul lagi dari mulut saya.
“Yahh, gak usah makan yang dingin-dingin,” lagi-lagi beliau hanya menjawab singkat.
Sebenarnya saya jengkel juga dengan pernyataan beliau yang seperti itu ditambah lagi dengan cara beliau menjawab pertanyaan si pasien.
Saya sangat kecewa sebenarnya, karena tujuan pokok saya pergi ke dokter adalah untuk mencari solusi atas sakit yang saya derita, namun berbeda apa yang lakukan. Hal yang wajar menurut saya, jika si pasien ingin bertanya lebih dalam tentang sakit yang dideritanya dan mengharapkan dokter akan menjawabnya secara jelas. Sayangnya 2 dokter berbeda yang saya temui di rumah sakit milik negeri ini tidak masuk pada poin tersebut.
Jika saja bisa memilih, maka dokter swasta akan lebih saya pilih saat mendapati keluhan kesehatan. Namun kita sama-sama tahu bahwa kesehatan di negara ini terlalu mahal sehingga menyebabkan mahasiswi seperti saya yang uang sakunya pas-pasan akan lebih memilih rumah sakit negeri yang cenderung biayanya lebih murah atau bahkan gratis.
Cerita pribadi soal pelayanan kesehatan tidak berhenti di sini saja, jauh sebelum 2 kejadian di atas terjadi, saya mengalami kejadian yang bisa dibilang buruk juga.
Saat itu saya sedang sakit di kampung sampai sebulam lebih. Lutut kiri saya tiba-tiba terasa nyeri tanpa sebab apa-apa. Karena berspekulasi bahwa itu keseleo, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke tukang urut, tetapi hasilnya nihil. Lantas saya mencari solusi yang lain, kira-kira 4-6 kali saya berkunjung ke dokter untuk mengatasi sakit yang satu ini. Benjolan di lutut saya sempat mengecil setelah mendapat obat dari dokter namun tidak pulih sempurna. Hampir seluruh dokter yang saya kunjungi berpendapat bahwa benjolan di lutut saya berisi darah. Karena tak kunjung sembuh dan khawatir terjadi apa-apa, mereka menyarankan pada saya untuk melakukan rontgen.
Lagi-lagi ini soal biaya, waktu itu saya memutuskan untuk pergi ke sebuah puskesmas yang berada di kecamatan dengan maksud menekan biaya agar tidak terlampau tinggi. Dengan bekal sebuah kartu Jamkesmas, saya meminta surat rekomendasi rontgen dari pihak puskemas untuk dibawa ke rumah sakit negeri di kabupaten.
Mereka tidak lantas memberikan surat itu secara langsung, namun mereka memberi saya beberapa obat dan meminta agar menunggu reaksinya selama tiga hari. Awalnya kecewa, tetapi saya meyakini pasti praktisi kesehatan punya tata cara sendiri dalam penanganan pasien. Tidak ada yang saya keluhkan soal hal itu, melainkan hal yang paling mengecewakan saat itu adalah ketika banyak pegawai di sana tidak memberikan pelayanan dengan baik dan ramah. Anda satu menit saja telat mengambil obat yang ada di kasir, bersiap-siaplah mendapat cacian yang pedas dari mereka. Dan itu saya lihat serta dengar sendiri.
Hasil dan cerita berbeda jika saya berobat ke dokter swasta selama ini. Pertama, ketika Anda duduk, sebuah senyuman akan mereka sungguhkan untuk Anda. Tentu untuk urusan keramah tamahan, mereka lebih unggul daripada dokter-dokter negeri yang pernah saya kunjungi. Bagaimana mimik ramah wajah mereka saat menyambut setiap yang datang, juga kehalusan saat bicara yang membuat saya sebagai pasien merasa nyaman dan diperlakukan dengan baik.
Sempat saya merasa bingung tentang 2 hal tersebut yang sangat berseberangan, swasta dan negeri. Pertama mulai dari sikap mereka pada pasien, berdasarkan yang saya alami, dokter swasta lebih ramah daripada dokter negeri. Tetapi setelah saya pikir-pikir, benarkah para dokter swasta bersikap ramah hanya karena mereka ingin pasiennya merasa nyaman dan cocok dengan pelayanan mereka? Maksudnya seperti ini, ketika si pasien ini merasa cocok dengan pelayanannya maka dia akan kembali ke praktek dokter tersebut untuk berobat.
Namun ini hanya sebatas hipotesa saya saja, mungkin di daerah lain para dokter swastanya tidak sama seperti yang pernah saya temui dan kunjungi.
Kedua, kenapa justru dokter-dokter negeri tidak bisa memiliki sifat seramah dokter swasta? Apa karena biaya lebih murah kemudian banyak pasien yang datang sehingga merasa lelah dan tak bisa lagi bersikap ramah. Atau karena mereka sudah merasa terjamin dengan gajinya. Secara jelasnya begini, dokter-dokter negeri tidak begitu perlu untuk bersikap ramah pada pasiean karena ketika pasiennya merasa kecewa dan tidak datang lagi, mereka tetap mendapat gaji yang sama banyaknya meskipun pasien yang ditangani berkurang.
Yang saya ketahui, gaji yang mereka miliki selama ini merupakan uang yang dibayarkan rakyat pada pemerintah. Jadi, memang suadah seharusnya rakyat mendapat pelayanan yang baik.
Namun ini hanyalah pendapat pribadi yang mungkin para pembaca memiliki pemikiran sama seperti saya.
Begitulah pengalaman tentang pelayanan kesehatan yang saya alami. Tentu saja hal ini tidak bisa menjadi patokan bagi semua orang, lantas melahirkan pemikiran bahwa dokter swasta lebih ramah atau lebih baik pelayanannya daripada dokter umum. Sekarang tinggal Andalah yang memilih, mau ke dokter swasta atau negeri, di mana di sisi ayang lain biaya juga menjadi salah satu unsur pertimbangan.
Adapun tulisan ini merupakan essai yang saya buat untuk mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh Forum Peduli Kesehatan Rakyat yang bisa langsung diklik lewat widget yang berada di samping atau bisa juga lewat link ini:http://blogfpkr.wordpress.com/.