Kelompok Syiah

Dari segi lughat, kata syi’ah berarti: golongan, sahabat, pengikut, dan penolong. Makna yang demikian ini dapat dijumpai dalam AlQur’an, (Al-Qashash/28:15).

Andai Kelak Saya Jadi Dosen

Nanti kalau saya jadi dosen, saya akan mengizinkan mahasiswa saya untuk menghabiskan 4 hari absennya. Hal ini tidak akan mengurangi nilainya.

Pilih Swasta Atau Negeri

Cerita ini bermula ketika gangguan tenggorokan mulai menyerang saya sejak beberapa bulan yang lalu. Saya sering membuang air ludah yang bercampur dahak setiap waktu. Dulu sering berpikir kalau hal ini

Merenda Waktu

Aku merenda waktu sepanjang pagi tadi menanti pertemuan kita yang pertama kali. Oh, mulutku tak hentinya mendendangkan bait-bait puisi Daeng Krishna sejak semalam

Menulis Itu Candu

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer bahwa menjadi penulis berarti bekerja pada keabadiaan. Di mana ide-ide yang kita miliki akan tersimpan abadi pada tulisan. Selain itu bagi saya pribadi, menulis juga berarti

Kamis, 25 Mei 2017

Saat Komentarmu Bikin (yang Lain) Baper


Sekitar sebulanan lalu, saya mengomentari status kakak kelas  (si Z)di salah satu media sosial. Bagi saya ya wajar saja kalau suatu status dikomentarin. Kan tujuan status ditulis diantaranya untuk berbagi biar dibaca orang, dikomentarin, di-like juga sama yang lain wkwkwk. Dengan santainya saya komentarilah status itu.

Klik, saya tekan tulisan "comment". Muncullah komentar-komentar sebelumnya dari teman si kakak. Usut punya usut ternyata mereka lagi bahas soal skripsi. Sok tahu, saya jadi mikir yang sama "si kakak lagi nyekripsi" karena belum pernah denger kabar si kakak Z ini wisuda guys. Komentar pertama yang saya kirim adalah nanyain kabar. Sudah empat tahunan enggak pernah ketemu soalnya, wajar tho?. Eh, dibales sama si Z dan balik nanyain saya hal yang lain. Otomatis kan saya jawab, beneran saya jawab tanpa embel-embel genit atau apapun itu. Dan terakhir saya tulisin semoga lancar skripsinya. Well, karena dari awal mikirnya si kakak ini lagi skripsian. Jadi gak ada yang salah sampai part ini ya? :D

Kira-kira dua minggu setelah nge-post dua komentar, tetiba muncul notification. Jreng jreng, akun ***** (si Y) juga mengomentari status si kakak. Coba tebak, apa? XD Dia nulis "Kak ****** punya pacar baru" diakhir sama emoji wajah dengan mata berbentuk hati. Wakakkaakak saya cekikikan seketika. Ini orang maksudnya gimana ya? FYI, ada 3 orang yang komentar di satatus itu, dan saya satu-satunya perempuan di sana. But why, but, but, halahh.... Asli deh, saya gak ada maksud buat macarin si Z atau apapun lah yg sejenis hahahaha.... Enggak ada niat lhoh.

Setelah cekikikan sendiri, tetiba saya mikir, jangan-jangan komentar yang saya anggap biasa bikin orang lain yang baper ya. Komentarnya biasa saja kok, serius. Tanya kabar dan bilang "long time no see Kak". Genit sebelah mana? Kakagkakgg... kan empat tahunan gak ketemu. Masa iya saya dosa bilang gitu hihihi.... Sapaan biasa dan mungkin malah kesannya jadi basa-basi. Kayak ketemu temen lama di jalan terus nanyain kabar, well it is ordinary thing, dudes. Mungkin ada kesalahpahaman kali ya? Emmm....

Jadi awalnya ketemu si kakak Z waktu awal masuk jadi salah satu anggota komunitas. Kita ngobrolin banyak hal dari ini sampai itu. Eh tambahan sedikit, waktu itu ada yang sempat cemburu juga karena si kakak ngobrolnya cuma saya. Sampai saya diajak ngobrol, sebut saja si cewek ini X, setelah acara pelantikan. Katanya dia kenal si kakak lebih dulu dan ada perasaan. Duh, saya gak maksud pedekate atau apa loh padahal kgkgkg. Tapi akhirnya si X gak jadian sama si kakak sih sampai sekarang. Saya juga mungkin ketemu dua kali saja setelah pelantikan. Jadi, tidak perlu ada ekpektasi terlalu jauh soal hubungan kan ya.... Nah, itu cerita awal ketemu. Dari awal sudah ada justice mengada-ada alias dikira naksir si kakak ahahaha.

Back to the topic, setelah baca komentar si Y, saya cekikikan, merenung dan seterusnya, saya inget sesuatu. Beberapa bulan sebelum ada status itu, si kakak pernah posting status lain (ngomong-ngomong dia enggak terlalu aktif medsosnya). Dia pernah posting apa ya, lupa XD Tapi yang jelas secara garis besar nge-post soal mbak pacar. Dan taaraaa, saya inget kalo si Y ini ternyata dulu pacarnya si kakak Z ahahahaha.... Nah nah nah sekarang saya mulai connect

Omooo omooo (ala drama Korea), sampai sekarang si Y masih suka ngelihatin status si kakak dong :D Kayaknya si dia sudah jadi mantan ya, kelihatan dari komentarnya yang ngasih selamat ke si kakak karena punya pacar baru (walaupun salah, besar lagi hahaha).

Well, kayaknya sekarang mesti lebih hati-hatilah kalau mau komentar di status yang lain apalagi cowok dan punya mantan kigkigkikg. Salah-salah bisa di-bully mantan pacarnya. Ampun Dj XD XD XD

Cheers,

Sabtu, 31 Desember 2016

Antara Halal dan Haram Tahun Baru


Saat pergantian dari tahun 2015 ke 2016, waktu itu banyak sekali perdebatan mengenai perayaan tahun baru di beranda saya, pun sekarang. Karena penasaran, saya telusuri sumber-sumber bacaan yang selama ini saya percaya waktu itu. Maksudnya sumber tsb biasanya tidak menyebar hoax ataupun ngompor-ngomporin :D biar tetap sejuk bacanya hihi....
Sumber pertama. Dalam Islam dikenal dua istilah tahun, -tahun Syamsiah (matahari) dan tahun Qomariyah (bulan). Dalam bacaan tersebut disebutkan bahwa kata "Masehi" dalam Islam lebih kita kenal dengan istilah "Syamsiah". Saya senang sekali ternyata umat Islam dengan bangsa India punya sistem kalender yang sama walaupun beda istilah XD. Berikut sumbernya:
Tulisan tersebut ditulis oleh K.H Tengku Zulkarnain, salah satu pengurus MUI. Tulisan di atas (cukup) menyejukkan bahasanya, bahkan beliau menyertakan salah satu ayat mengenai perhitungan tahun Syamsiah itu sendiri. Jujur, sekarang ini saya kecewa dengan beliau, bukan menghujat, atas sikap pernyataannya dalam kasus penistaan agama yang terjadi baru-baru ini karena Mbah Moen sendiri sudah 'dawuh' mengatakan Ahok sudah minta maaf jadi tidak perlu dibesar-besarkan. Jadi, saya hanya mengambil pemikiran Ustadz Tengku yang saya nilai positif dan masih menyejukkan.
Bagi yang berkeyakinan bahwa tahun Masehi adalah tahunnya Kristiani, seringkali menggunakan hadits Nabi yang berbunyi "Man Tasyabbaha Bi qowmin, Fahuwa Minhum" yang artinya 'Barang siapa yang meniru suatu kelompok, maka ia termasuk bagian kelompok itu secara tidak langsung'. Namun, mengatakan perayaan tahun baru adalah dilarang atau bahkan disebut kafir tidaklah tepat saya kira. Kita terlalu terburu-buru. Nah, ada artikel apik yang ditulis oleh Masrur Irsyad, Peneliti di El-Bukhari Insitutte. Setahu saya, lembaga ini banyak digawangi oleh para alumni PonPes Darus Sunnah (sering kita sebut Darsun) yang dulu diajar oleh Alm. K.H. Ali Musthofa Ya'qub. Berikut linknya:

Yang terakhir, sebagai seorang muslimah dan Nahdliyyin, saya menyertakan link dari NU Online terkait hukum mengucapkan selamat tahun baru, mubah. Beriku linknya:

Jangan sampai kita membiarkan "kafir" jadi seperti air putih, kita konsumsi tiap hari. Bisa mabuk kita :D Oh iya, ada satuyang tidak boleh tertinggal. Sebagai tambahan info, Arab Saudi, bangsa yang banyak dipuja-puja, tidak lagi menggunakan kalender Hijriyyah tapi beralih keMasehi :) Link:

Bukankah penanggalan itu hanya sebuah sistem? Atau berpengarauh pada aqidah dan keimanan kita? Bagi saya pribadi, pergantian tahun perlu disyukuri karena itu artinya Tuhan memberikan kesempatan (lagi) bagi saya untuk memperbaiki diri. Tuhan masih memperpanjang umur saya di dunia. Selain itu, pergantian tahun juga bisa menjadi momen refleksi diri, melupakan yang terjadi di tahun lalu dan bertekad memperbaiki di tahun depan.
Namun memang perlu saya ingat juga, bahwa waktu untuk melakukan itu semua bukan hanya saat pergantian tahun :)
Lakukan yang halal dan psositif. Yang masih mengaji monggo, yang merayakan monggo. Ihdinash shirotol mustaqim

Wallahu a'lam
Happy NUyear :D

Rabu, 18 Maret 2015

Koper 1 Milyar

Kulirik kanan dan kiri, takut-takut ada yang melihatku tadi. Uang satu milyar kapan lagi kudapat, selain dari warisan Kakek yang kusyukuri kematiaannya. Aku menginjakkan kaki pelan, keluar bank bagi dikuntit maling. Masih terbayang, wajah mas-mas teller yang menebar senyum kepadaku. Alih-alih aku senang, aku justru takut uangku diiincar. Gigi emasnya nampak berkilau kekuningan menambah keinginanku untuk segera keluar.**

Kupasang sabuk pengaman, tak hentinya kusayang-sayang koper berisi satu milyar. Kuusap-usap, kutepuk-tepuk, dan untuk kesekian kali kucium. Aroma uangnya begitu harum, aku akan tidur nyenyak malam ini tanpa lotion anti nyamuk apapun. Apalagi ditambah bayangan Romlah di depan mata yang tiba-tiba muncul tanpa izin, namun kusenang. Senyumnya melebar dan matanya berbinar menerima segepok uang. Ah, aku tak mau mati sekarang.

Minggu, 15 Maret 2015

Merenda Waktu

Aku merenda waktu sepanjang pagi tadi menanti pertemuan kita yang pertama kali. Oh, mulutku tak hentinya mendendangkan bait-bait puisi Daeng Krishna sejak semalam

"Tuhan yang kamu cintai adalah
yang secara rahasia mengajariku
cara mencintai kamu...."


Bib bib bib..., suara handphone lawasku berdering keras. Ah sial, aku lupa menaruhnya di mana. Ingatanku semakin kacau saja hari-hari ini. Aku berharap bukan karena aku terlalu dan sering memikirkanmu, sehingga setengah dari isi kepalaku sudah dipenuhi olehmu. Ya, aku harap.

Jumat, 30 Januari 2015

Pilih Swasta atau Negeri?

Obat

Cerita ini bermula ketika gangguan tenggorokan mulai menyerang saya sejak beberapa bulan yang lalu. Saya sering membuang air ludah yang bercampur dahak setiap waktu. Dulu sering berpikir kalau hal ini merupakan sesuatu yang sangat wajar, tapi lama kelamaan saya merasa terganggu juga.
Beberapa keluhan sempat terucap dari lisan atau ada luapan kemarahan yang pernah saya keluarkan ketika gangguan tenggorokan ini tak kunjung berakhir. Kakak yang mendengar serta melihat sendiri bagaimana ini sangat mengganggu diri saya, akhirnya menyarankan untuk pergi ke dokter.

“Cobalah periksa ke dokter tentang sakitmu ini,” saran Kakak.

Sering kali saran itu saya abaikan karena menurut saya sakit ini akan bisa sembuh sendiri nantinya tanpa perlu ke dokter. Namun dugaan saya salah, gangguan ini terus berlanjut sampai beberapa bulan. Karena tidak tahan dan merasa sangat terganggu, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke dokter.

Siang itu saya tanpa ditemani kakak pergi ke rumah sakit milik universitas yang memang selain untuk masyarakat umum, terbuka juga bagi para mahasiswa. Sebenarnya bukan dengan alasan apa-apa saya memilih untuk berobat di sini. Sebagai mahasiswi saya haruslah berhemat, oleh karena itu memutuskan untuk pergi ke rumah sakit negeri merupakan pilihan terbaik, apalagi milik universitas sendiri yang notabene para mahasiswa bisa mengeluarkan biaya lebih murah bahkan gratis.  

Setelah mendapatkan nomor urut periksa, saya langsung naik ke lantai dua tempat di mana dokter tersebut praktek. Hanya beberapa menit berselang, terdengar nama saya dipanggil melalui pengeras suara. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja saya menuju ruangan dokter umum. Di situ saya keluarkan semua uneg-uneg mengenai gangguan tenggorokan yang sudah sejak lama saya alami. Tetapi nihil sekali hasilnya ketika dokter bilang bahwa penyebab semua gangguan itu hanyalah alergi. Bukan apa-apa sebenarnya, tetapi ketika seseorang berkunjung ke dokter untuk berobat tentu saja dia bermaksud untuk mencari solusi juga pemecahan atas sakitnya, bukan hanya ingin tahu penyebabnya saja. Karena masih penasaran, beberapa pertanyaan saya munculkan namun jawabannya tetap itu-itu saja.

Di hari yang lain, saya ke rumah sakit itu lagi dengan keluhan yang berbeda. Sampai saat itu, saya masih menaruh harapan bahwa saya akan mendapatkan pelayanan yang lebih baik daripada yang kemarin dari pihak lembaga pelayanan kesehatan publik yang satu ini. Ketika itu kebetulan dokter yang sedang berdinas berbeda dengan dokter yang sebelumnya.

“Jadi begini Dok, kalau kena air dingin badan saya jadi bentol-bentol dan bengkak. Bahkan ketika makan es krim, bibir saya ikut bengkak dan kaku. Itu kenapa ya, Dok?” panjang lebar saya.
“Yaaa, itu alergi,” jawab beliau singkat.
“ Alergi, Dok? Lantas saya harus bagaimana?” karena masih penasaran, akhirnya pertanyaan muncul lagi dari mulut saya.
“Yahh, gak usah makan yang dingin-dingin,” lagi-lagi beliau hanya menjawab singkat.

Sebenarnya saya jengkel juga dengan pernyataan beliau yang seperti itu ditambah lagi dengan cara beliau menjawab pertanyaan si pasien.

Saya sangat kecewa sebenarnya, karena tujuan pokok saya pergi ke dokter adalah untuk mencari solusi atas sakit yang saya derita, namun berbeda apa yang lakukan. Hal yang wajar menurut saya, jika si pasien ingin bertanya lebih dalam tentang sakit yang dideritanya dan mengharapkan dokter akan menjawabnya secara jelas. Sayangnya 2 dokter berbeda yang saya temui di rumah sakit milik negeri ini tidak masuk pada poin tersebut.

Jika saja bisa memilih, maka dokter swasta akan lebih saya pilih saat mendapati keluhan kesehatan. Namun kita sama-sama tahu bahwa kesehatan di negara ini terlalu mahal sehingga menyebabkan mahasiswi seperti saya yang uang sakunya pas-pasan akan lebih memilih rumah sakit negeri yang cenderung biayanya lebih murah atau bahkan gratis.

Cerita pribadi soal pelayanan kesehatan tidak berhenti di sini saja, jauh sebelum  2 kejadian di atas terjadi, saya mengalami kejadian yang bisa dibilang buruk juga.

Saat itu saya sedang sakit di kampung sampai sebulam lebih. Lutut kiri saya tiba-tiba terasa nyeri tanpa sebab apa-apa. Karena berspekulasi bahwa itu keseleo, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke tukang urut, tetapi hasilnya nihil. Lantas saya mencari solusi yang lain, kira-kira 4-6 kali saya berkunjung ke dokter untuk mengatasi sakit yang satu ini. Benjolan di lutut saya sempat mengecil setelah mendapat obat dari dokter namun tidak pulih sempurna. Hampir seluruh dokter yang saya kunjungi berpendapat bahwa benjolan di lutut saya berisi darah. Karena tak kunjung sembuh dan khawatir terjadi apa-apa, mereka menyarankan pada saya untuk melakukan rontgen.

Lagi-lagi ini soal biaya, waktu itu  saya memutuskan untuk pergi ke sebuah puskesmas yang berada di kecamatan dengan maksud menekan biaya agar tidak terlampau tinggi. Dengan bekal sebuah kartu Jamkesmas, saya meminta surat rekomendasi rontgen dari pihak puskemas untuk dibawa ke rumah sakit negeri di kabupaten.

Mereka tidak lantas memberikan surat itu secara langsung, namun mereka memberi saya beberapa obat dan meminta agar menunggu reaksinya selama tiga hari. Awalnya kecewa, tetapi saya meyakini pasti praktisi kesehatan punya tata cara sendiri dalam penanganan pasien. Tidak ada yang saya keluhkan soal hal itu, melainkan hal yang paling mengecewakan saat itu adalah ketika  banyak pegawai di sana tidak memberikan pelayanan dengan baik dan ramah. Anda satu menit saja telat mengambil obat yang ada di kasir, bersiap-siaplah mendapat cacian yang pedas dari mereka. Dan itu saya lihat serta dengar sendiri.

Hasil dan cerita berbeda jika saya berobat ke dokter swasta selama ini. Pertama, ketika Anda duduk, sebuah senyuman akan mereka sungguhkan untuk Anda. Tentu untuk urusan keramah tamahan, mereka lebih unggul daripada dokter-dokter negeri yang pernah saya kunjungi. Bagaimana mimik ramah wajah mereka saat menyambut setiap yang datang, juga kehalusan saat bicara yang membuat saya sebagai pasien merasa nyaman dan diperlakukan dengan baik.

Sempat saya merasa bingung tentang 2 hal tersebut yang sangat berseberangan, swasta dan negeri. Pertama mulai dari sikap mereka pada pasien, berdasarkan yang saya alami, dokter swasta lebih ramah daripada dokter negeri. Tetapi setelah saya pikir-pikir, benarkah para dokter swasta bersikap ramah hanya karena mereka ingin pasiennya merasa nyaman dan cocok dengan pelayanan mereka? Maksudnya seperti ini, ketika si pasien ini merasa cocok dengan pelayanannya maka dia akan kembali ke praktek dokter tersebut untuk berobat.

Namun ini hanya sebatas hipotesa saya saja, mungkin di daerah lain para dokter swastanya tidak sama seperti yang pernah saya temui dan kunjungi.

Kedua, kenapa justru dokter-dokter negeri tidak bisa memiliki sifat seramah dokter swasta? Apa karena biaya lebih murah kemudian banyak pasien yang datang sehingga merasa lelah dan tak bisa lagi bersikap ramah. Atau karena mereka sudah merasa terjamin dengan gajinya. Secara jelasnya begini, dokter-dokter negeri tidak begitu perlu untuk bersikap ramah pada pasiean karena ketika pasiennya merasa kecewa dan tidak datang lagi, mereka tetap mendapat gaji yang sama banyaknya meskipun pasien yang ditangani berkurang.

Yang saya ketahui, gaji yang mereka miliki selama ini merupakan uang yang dibayarkan rakyat pada pemerintah. Jadi, memang suadah seharusnya rakyat mendapat pelayanan yang baik.
Namun ini hanyalah pendapat pribadi yang mungkin para pembaca memiliki pemikiran sama seperti saya.

Begitulah pengalaman tentang pelayanan kesehatan yang saya alami. Tentu saja hal ini tidak bisa menjadi patokan bagi semua orang, lantas melahirkan pemikiran bahwa dokter swasta lebih ramah atau lebih baik pelayanannya daripada dokter umum. Sekarang tinggal Andalah yang memilih, mau ke dokter swasta atau negeri, di mana di sisi ayang lain biaya juga menjadi salah satu unsur pertimbangan. 

Adapun tulisan ini merupakan essai yang saya buat untuk mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh Forum Peduli Kesehatan Rakyat yang bisa langsung diklik lewat widget yang berada di samping atau bisa juga lewat link ini:http://blogfpkr.wordpress.com/.

Kamis, 29 Januari 2015

Tentang Aku, Engkau, dan Takdir Tuhan


Lama sekali kita tak berjumpa, tak bertatap muka, ataupun bersua,
Apalagi mendengar suara merdumupun tak
Tak pernah ku lakukan


Dan kita sama-sama tahu
Tahu bahwa sesuatu yang bernama rindu
Makin menyesaki dada, makin memuncak dalam hati
Dan rasanya ingin muntah
Dia meronta-ronta untuk keluar

Tapi Tuhan selalu mengingatkan kita
Mengingatkan untuk tidak menuruti nafsu
Nafsu yang akan merasuk lalu merusak hati kita

Aku tetap berdo'a kepada Tuhan untuk selalu menjagamu
Untuk menjadikanmu sebagai seorang pendamping yang akan melindungiku dengan setulus hati
Kita menghabiskan waktu untuk saling menjaga, saling memberi, dan saling menyayangi

Aku tetap bahagia, sangat bahagia
Meskipun aku tak tahu bagaimana engkau sekarang
Bagaimana kabarmu?


Apa yang kau lakukan, apa yang sedang kau lakukan, dan apa yang telah kau lakukan

Tapi aku tak dapat berbohong
Banyak pertanyaan yang menyerang hatiku
Aku masih ada di hatimu?
Masihkah ada memori otakmu yang mengingatku dan segala hal tentang kita?

Tidak, aku tidak menangis
Sebab aku tahu, sebab aku paham, Tuhan itu Maha Tahu segala isi hati makhlukNya
Aku yakin dia akan menjagamu untukku
Dan menjagaku untukmu

Entah kapan aku tunjukkan puisi ini untukmu
Tapi suatu saat nanti dengan keberanianku, aku akan memperdengarkan puisi ini untukmu
Puisi yang aku ciptakan dengan tanganku, dengan pikiranku, dan juga dengan hatiku
Untukmu


Dengan tulus, aku


Pembacaan puisinya bisa didengar di video ini *lagu - Kiss the Rain

http://www.youtube.com/watch?v=Z4wW0J3pFD8