Selasa, 28 Januari 2014

Bahasa Tanpa Kelamin


Bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia satu dengan manusia yang lainnya. Di mana masing-masing daerah mempunyai bahasa khas yang mencerminkan kebudayaan yang mereka miliki. Barang tentu jumlah bahasa yang ada di dunia ini banyak sekali. Sebagai contoh, Indonesia sendiri mempunyai bahasa daerah yang mencapai 500 lebih.

Selain sebagai alat interaksi, bahasa juga sebagai alat bantu bagi manusia untuk menambah pengetahuan. Bagaimana bisa? Coba bayangkan ketika Anda ingin membaca suatu karya ilmuwan dari negara lain yang berbahasa Inggris tanpa ada terjemahan yang menyertainya, tentu hanya kebingungan yang akan terjadi. Untuk itulah, ketika kita menguasai suatu bahasa secara otomatis kita bisa membaca dan memperluas pengetahuan, apalagi ketika kita menguasai lebih dari satu bahasa yang bukan merupakan bahasa ibu.

Nah, konten-konten yang tersaji dalam suatu bahasa tentu saja berbeda. Misalnya antara bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab. Mari kita membahas tentang kata-kata pengganti subjek yang digunakan dalam 3 bahasa ini.

Pertama bahasa Inggris, pengganti subjek biasanya dikenal dengan "pronoun", di mana kita bisa menemukan kata "he" dan "she". "He" yang berarti "dia laki-laki" dan "she" yang berarti "dia perempuan" dalam bahasa Indonesia. Hal ini merupakan suatu keunikan tersendiri bagi bahasa yang satu ini, yakni adanya pembedaan "gender" alias jenis kelamin di dalamnya.

Kedua, tak kalah dengan bahasa Inggris, bahasa Arabpun juga mempunyai keunikan tersendiri. Selain soal pembedaan "dia laki-laki" atau dalam bahasa Arab berarti "huwa" juga "hiya" yang bermakna "dia perempuan, bahasa Arab juga mempunyai dhomir (kata ganti subjek dalam bahasa Arab) yang lain dan bahkan lebih luas dari bahasa Inggris. Ketika Anda belajar bahasa yang satu ini, Anda akan menemukan paling tidak ada 14 dhomir yang selama ini dipelajari, yakni:

1. Huwa (dia laki-laki satu)
2. Huma (dia laki-laki dua)
3. Hum (mereka laki-laki banyak)
4. Hiya (dia perempuan satu)
5. Huma (dia perempuan dua)
6. Hunna ( mereka perempuan banyak)
7. Anta (kamu laki-laki satu)
8. Antuma (kamu laki-laki dua)
9. Antum (kalian laki-laki banyak)
10. Anti (kamu perempuan satu)
11. Antuma (kamu perempuan dua)
12. Antunna (kamu perempuan banyak)
13. Ana ( saya )
14. Nahnu ( kita/kami )

Dari sini kita bisa melihat bahwa salah satu keunikan yang dimiliki oleh bahasa Arab adalah banyaknya pembedaan jenis kelamin dalam susunan dhomirnya.

Ketiga, berbeda dengan 2 bahasa di atas, yakni bahasa Inggris dan bahasa Arab, bahasa Indonesia lebih memilih untuk bersifat universal alias umum. Bahasa Indonesia lebih memilih menggunakan kata pengganti subjek tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, dalam bahasa Indonesia kita hanya akan menemukan kata "dia" tanpa embel-embel "dia perempuan" atau "dia laki-laki". Selain itu, di sini juga tidak ada perbedaan dalam penyebutan subjek yang jumlahnya banyak, "mereka" misalnya. Bukan "mereka laki-laki" atau "mereka perempuan", tetapi hanya "mereka" saja.

Artikel di atas hanyalah ulasan kecil. Bagi saya pribadi, ini adalah suatu kebanggan bagi saya sebagai salah satu pengguna bahasa Indonesia yang tercatat sebagai bahasa resmi di Indonesia ini :)

*Tulisan ini terinspirasi dari Dosen bahasa Arab penulis, "Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling universal, tidak mengenal gender"
*Gambar dari pemudasap.blogspot.com

0 comments:

Posting Komentar