Saya juga
merasa bahwa menulis adalah kebebasan tanpa batas. Pemikiran juga ide-ide yang
kita punya bisa dikemukakan melalui tulisan yang kita buat. Tak ada yang melarang
menulis karena menulis adalah wilayah kita. Kita adalah pemilik dari tulisan itu
sendiri. Inilah yang saya sebut sebagai kebebasan tanpa batas.
Menulis karena
saya mau, hal pertama inilah yang menyebabkan saya terus menulis sampai
sekarang. Sebelumnya, menulis bagi saya
hanya menulis, tak ada makna yang lain. Namun ketika mulai mengenal arti lain
dalam menulis, saya kecanduan. Alasan inilah yang mendorong saya untuk terjun dalam dunia
literasi.
Pertama kali,
saya tertarik untuk menulis sebuah cerpen. Kala itu menulis cerpen yang
bertemakan dongeng adalah hal yang paling saya gandrungi. Ini bermula ketika Bu
Izzah, guru Bahasa Indonesia saya saat itu, meminta semua murid menulis cerita
pendek. Awalnya hanya tugas, tetapi lama-kelamaan malah jadi hobi. Sebenarnya tak
ada buku khusus yang saya gunakan untuk menulis cerpen, kecuali buku diary
kecil berwarna biru bergambar anjing. Itupun bercampur dengan tulisan-tulisan yang
lain. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai suatu saat salah satu kakak saya
mengetahuinya.
“Coba aku bawa
buku diarymu, diterbitkan saja di Jakarta,” ujarnya waktu itu.
Kebetulan, saat
itu Kakak adalah seorang mahasiswa di salah satu PTAIN (Perguruan Tinggi Agama
Islam Negeri) yang berada di Jakarta. Kakak sendiri merupakan penulis aktif yang
mana tulisannya banyak dimuat di berbagai media. Hal inilah yang membuat saya
sangat percaya dan begitu besar menggantung harapan padanya. Bagaimana tidak, sebagai
anak kelas lima Madrasah Ibtidaiyyah (MI) yang sedang getol-getolnya menulis,
tentu akan sangat senang bila karyanya diterbitkan dan dipublikasikan ke khalayak ramai.
Namun sayang
sekian lama menunggu, kabar tak pernah datang. Hal terakhir yang saya tahu
adalah buku itu hilang, entah ke mana. Meskipun begitu, semangat menulis saya
tidak pudar. Saya tetap menulis dan menulis lagi.
Kemudian ketika
menginjak Sekolah Menengah Pertama, hobi saya masih sama. Tetapi kali ini, saya
mempunyai cara yang berbeda dari sebelumnya. Yang pada awalnya hanya buku diary
kecil, kini beralih ke blocknote yang lebih besar. Blocknote baru pemberian
Kakak dari ibukota makin menambah hasrat menulis saya meningkat.Benar saja,
rasanya tangan tidak mau berhenti, setiap hari selalu saja ada plot cerita yang
saya tulis. Namun sayang, sebelum cerita terselesaikan saya mengalami block
writer, tak pernah ada ending untuk cerita yang saya tulis. Sampai
suatu saat saya merasa iri dengan salah seorang teman. Iya iri, iri ketika dia
mampu menuliskan banyak cerpen ber-ending sedang saya tidak. Sejak saat
itulah saya bangkit kembali untuk terus menulis.
“Kalau dia
bisa, berarti saya juga bisa,” batin saya waktu itu.
Saya mencoba menulis
lagi dan akhirnya berhasil, berhasil membuat cerpen ber-ending. Rasanya
begitu lega sekali sudah bisa memenangkan pertarungan dalam diri saya sendiri,
yakni membuat cerita yang mempunyai akhir, ber-ending.
Perjalanan saya
mengejar cita-cita sebagai penulis terus berlanjut. Meskipun sempat vakum
menulis karena beberapa hal, namun tetap saja masih ada semangat yang menyisa
dalam dada. Menginjak kelas sepuluh di salah satu Madrasah Aliyah, saya dan
teman-teman ditunjuk pihak sekolah untuk ikut pelatihan SPW (Saka Pandu Wisata)
yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kudus. Acara tersebut berkonsep camping
yang diisi dengan wawasan kepariwisataan dan hal-hal lain termasuk diadakannya
malam pentas seni. Malam dimana setiap kelompok diwajibkan untuk menampilkan kreatifitas
masing-masing.
“Baiklah, kalau
gitu kita sepakat bikin drama,” kata salah satu teman
“Tapi siapa
yang mau bikin teksnya?” sahut teman yang lain menimpali.
“Sayasaja yang
bikin teksnya.” spontan saya menawarkan diri waktu itu.
Begadangpun tak
jadi masalah asal cerita drama bisa selesai. Kala itu saya memunculkan kembali
cerita rakyat bertajuk “Bawang Merah dan Bawang Putih”. Siapa sangka dengan
drama yang sederhana juga latihan beberapa hari, kami malah jadi juara
pertama.Wah, sangat bahagia sekali saya saat itu karena bisa merasakan menjadi
penulis skenario drama.
Lagi, ketika
saya menginjak kelas sebelas. Suatu hari sebuah surat datang dari STAIN (Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri) Kudus yang berisi pemberitahuan tentang lomba-lomba
yang akan mereka adakan dalam acara Dies Natalis,termasuk menulis cerpen. Akhirnya saya dan seorang
teman mengajukan diri untuk mengikuti lomba cipta cerpen ini. Kami berdua sangat
berantusias mengikuti ini namun Kepala Sekolah hanya mendelegasikan satu orang saja
untuk mewakili sekolah.
“Yang ikut
cerpen satu orang saja, Dhorifah.” tegas beliau.
Sejujurnya bahagia
mendengar keputusan itu, tetapi di sisi yang lain rasanya sungkan sekali dengan
teman yang secara tidak langsung diminta mundur untuk mengikuti kompetisi ini. Walaupun
sempat merasa tidak enak padanya, saya sadar bahwa saya harus berkonsentrasi
penuh untuk lomba ini. Dari situlah, saya mulai menulis dan berusaha
sebaik-baiknya. Satu-satunya motivasi menulis saat itu hanyalah ingin membanggakan
sekolah, sama sekali tak terpikir tentang hadiah ataupun yang lain.
Karena dulu
tidak ada komputer di rumah, akhirnya saya pergi ke warnet untuk mengetik.
Meski capek, tetapi rasanya tetap bahagia bisa ikut berpartisipasi dalam lomba
ini. Beberapa kali cerpen hasil ketikan saya mendapatkan kritik dari guru
pembimbing, Bu Shofiyah. Sempat merasa down sebenarnya ketika mendapatkan
kritikan dari beliau, tetapi dari situlah saya justru belajar untuk terus
memupuk semangat dalam diri.
“Coba kamu
perhatikan kata ini, kamu sudah menuliskannya di depan, kemudian di sini ada
lagi.” kritik beliau.
“Oh iya Bu,
nanti akan saya perbaiki lagi.” ucapku mengiyakan.
Setelah memperbaikinya
sampai dirasa pas, barulahsaya mengirimkannya ke official email panitia
lomba dengan judul “Perjuangan untuk Seorang Ibu”. Tak dapat dipungkiri,
perasaan saya sangat kacau sekali waktu itu. Karena ini kali pertama saya
mengikuti lomba menulis cerpen.
“Tuhan, jika
kali ini aku tak menang, aku takkan ikut lomba cerpen lagi,” ujar saya karena saking takutnya.
Akan tetapi
benar, tidak ada yang sia-sia, kerja keras yang saya lakukan diganjar Tuhan
dengan mendapatkan trophy penghargaan sebagai Runner Up. Hamdan lillah ala kulli
haal
Dan perjalanan
saya masih berlanjut. Ketika kuliah di salah satu universitas yang berada di
Jakarta, hobi saya makin menjadi-jadi.Terlebih ketika ada cara yang lebih
praktis dari hanya sekedar menulis tangan, yakni mengetik. Semenjak laptop dan
komputer sudah tersuguh di depan mata, hasrat menulis rasanya lebih berkobar.
Kali ini teknologi benar-benar memanjakan saya. Saya ingat, kala itu saya adalah
seorang pengguna twitter yang masih kikuk dengan dunia sosial media. Akan tetapi
dari situlah saya mulai mencari-cari informasi.Karena dulu pernah punya
keinginan untuk menerbitkan buku, akhirnya saya mem-follow akun para penerbit
buku. Sebagai contoh, waktu itu saya mengikuti berbagai timeline yang dikelola
oleh salah satu penerbit mayor yang sedang naik daun. Ternyata banyak lomba
yang diselenggarakan oleh mereka, termasuk Lomba Menulis Cerpen bertemakan
“Hantu Gokil”, di mana setiap penulis
diharuskan membuat cerita hantu yang unik dan lucu tetapi berlatar belakang Yogyakarta.
Jujur saja, saat itu saya hanya mempunyai sedikit informasi tentang Yogyakarta.
Apalagi cerita harus beraliran komedi, padahal sama sekali saya tidak punyabasic
untuk hal yang satu ini. Namun karena merasa tertantang, akhirnya saya mulai
mencari info tentang Yogyakarta, mulai dari makanan khas, lagu daerah dan hal-hal
lain yang kiranya akan dibutuhkan dalam cerpen. Dan cerpen bertebal 10 halaman
berhasil saya selesaikan untuk dikirim.Alhamdulillah kemenangan memihak saya
lagi. Karya saya yang berjudul “Kunti Unyu Hantu Autentik Yogya” berhasil masuk menjadi
salah satu cerpen yangditerbitkan dalam buku antologi “Demit Gangnam Style”
pada tahun 2013. Saya gembira bukan kepalang ketika melihat buku ini terpampang
di sejumlah toko buku terkemuka seperti Gramedia dan Gunung Agung.
Setelah itu
saya banyak mengikuti event-event lomba menulis sampai akhirnya pada Ramadhan
tahun lalu saya juga dinobatkan menjadi salah satu finalis yang karyanya
diterbitkan lewat lomba yang diadakan oleh salah satu penerbit ibu kota. Kali
ini saya menulis cerpen berjudul “Kejutan bagi yang Bersyukur”. Hasil uang penjualan buku dari lomba ini akan
dipergunakan sebagai dana amal.
Beberapa kali
saya mencoba ikut kembali lomba cerpen yang lain, namun kemenangan tak selalu
memihak saya. Benar-benar masih menancap di kepala waktu saya merasa down
dan tak punya semangat menulislagi karena sebuah kekalahan.Waktu itu ada lomba
bertemakan “K-Pop” alias Korean Pop yang diadakan oleh salah satu
penerbit Yogyakarta. Saya ikut dan berusaha semaksimal mungkin membuat sebuah
cerita meskipun sejujurnya saya tidak pernah menyukai hal-hal yang berbau K-Pop. Berbekal
kemenangan yang lalu, saya begitu percaya diri untuk menang.Akan tetapi rasanya
jleb sekali saat mengetahui saya kalah bahkan menjadi finalispun tidak. Saya tak
punya semangat menulis lagi, hanya ingin berdiam diri dan menangis.
Di luar
dugaan,kekalahan-kekalahan yang saya alami justrumembuat semangat saya makin
membara.Dan hal ini pula yang memacu saya untuk menulis lagi dan lagi. Awalnya
harus ada alasan kenapa saya menulis, tapi lama-kelamaan saya sadar bahwa ini
adalah passion saya.Ya, passion saya adalah menulis. Karya Ahmad Thohari
(Ronggeng Dukuh Paruh) yang sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa asing juga
karya-karya inspiratif dari Putu Wijaya dalam bukunya “Klop” sangatlah
menginspirasi saya untuk berusaha menyajikan cerita yang berkualitas dan sarat
makna.
Saat ini saya
masih suka menulis, namun tidak hanya dalam bentuk cerpen. Saya mulai suka
menulis artikel, tanggapan, bahkan puisi. Karena hobi baru saya ini, akhirnya saya memberanikan
diri untuk ikut berpartisipasi dalam Lomba Cipta Puisi dalam rangka memperingati
hari lahirnya sebuah organisasi gerakan perempuan ekstra kampus bertajuk “25
September 1976”, di mana puisi ini mengandung gagasan emansipasi perempuan yang
saya yakini dan berusaha saya wujudkan. Siapa sangka, lomba puisi pertama kali
ini justru mampu mengantarkan saya untuk menjadi Juara I.
Layaknya
narkoba yang masuk ke tubuh dan membuat ketagihan, begitupun saya. Semakin
banyak lomba yang diadakan, semakin membuat saya ketagihan menulis. Rasanya
begitu sayang kalau melihat kompetisi menulis dianggurkan.Pikiran dan hati tak
mau diam. Bukan lagi hobi, ini sudah jadi candu. Menulis
adalah nyawa bagi saya agar bisa hidup lebih lama dan bekerja untuk keabadiaan.







0 comments:
Posting Komentar