Kulirik kanan dan kiri, takut-takut ada yang melihatku tadi. Uang satu milyar kapan lagi kudapat, selain dari warisan Kakek yang kusyukuri kematiaannya. Aku menginjakkan kaki pelan, keluar bank bagi dikuntit maling. Masih terbayang, wajah mas-mas teller yang menebar senyum kepadaku. Alih-alih aku senang, aku justru takut uangku diiincar. Gigi emasnya nampak berkilau kekuningan menambah keinginanku untuk segera keluar.**
Kupasang sabuk pengaman, tak hentinya kusayang-sayang koper berisi satu milyar. Kuusap-usap, kutepuk-tepuk, dan untuk kesekian kali kucium. Aroma uangnya begitu harum, aku akan tidur nyenyak malam ini tanpa lotion anti nyamuk apapun. Apalagi ditambah bayangan Romlah di depan mata yang tiba-tiba muncul tanpa izin, namun kusenang. Senyumnya melebar dan matanya berbinar menerima segepok uang. Ah, aku tak mau mati sekarang.
Rabu, 18 Maret 2015
Koper 1 Milyar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 comments:
Posting Komentar