Jumat, 26 April 2013

Tak Diizinkan di Dunia


Dear Tuhan,
Padahal baru saja aku menyusunnya kembali. Mengumpulkan bagian-bagian puzzle hatiku yang terlalu lama bercecer, lalu menatanya dengan begitu rapi. Tetapi hanya dengan waktu sekali pandang saja semua berhamburan. Bertemu dengan dia lagi mungkin bisa ku umpamakan petir yang terus meluncur meskipun hujan sudah berhenti. Dia memutuskan pergi meninggalkanku secara tiba-tiba dan sakitnya baru saja hilang 7 hari yang lalu setelah 2 tahun mencoba menghilangkannya.Bagaimana aku bisa sebodoh ini?

Layaknya seorang nelayan yang menghempaskan jaring ke laut, lalu pergi meninggalkannya begitu saja menggunakan perahu dan langsung meluncur ke daratan tanpa ingin tahu nasib jaringnya, begitulah dia. Harusnya yang namanya manusia itu memanusiakan manusia dan sadar kedudukannya sebagai manusia.
“ Heiiii, sudahlah!!! Untuk apa mengingat dia yang sudah jelas lelaki bukan idaman.”makiku pada diri sendiri
Aku mengambil guling yang sedari tadi tergeletak tak berdaya di atas kasur berseprai katun coklat keabuan, lalu kubungkam retina agar tak mengeluarkan butira-butiran bening. Sudah ku kerahkan tanganku beserta guling, tapi butiran-butiran ini masih bisa menerobos dinding pertahanan mata.Toss, suaranya lembut hampir tak terdengar.
Hmmmm, yang namanya move on tetap move on, kata-kata tak boleh ditarik kembali, kecuali jika Tuhan berkehendak mempersatukan kami.
“ In another live, I would make you stay, so I don’t have to say, you were the one that got away. “
Aku melipur lara dengan menggelar sebuah konser kecil di kamar mandi bersama lagunya Katy Perry, tak apa kalau yang mendengarkan hanya botol-botol shampoo dan sabun cair, atau mic gayung warna merah yang sedang aku gunakan.
Dan siiiittt, tiba-tiba berkelebatan bayangannya di mimpiku, dan menemaniku sampai jam 2 dini hari ketika aku terbangun.Padahal sampai usiaku 20 tahun, tak ada “pacar” yang bisa masuk ke mimpiku, apalagi sampai membuatku menangis tak karuan layaknya bayi yang sangat kehausan ingin minum susu. Langka….
Pagi yang cerah datang, mari membakar catatan-catatan diary yang bertuliskan tentang pribadinya juga foto-foto yang telah lama aku usangkan di kardus belakang. Semua kenangan harus dibuang agar bisa secepatnya pula aku beranjak dari bayangannnya.Hal penting juga adalah menghapus kontaknya dari buku telepon yang mungkin memang sengaja tak diaktifkannya.
“ Dian, lagi ngapain kamu?”suara Hani terdengar dari kejauhan memekakkan telinga
“ Ini lagi bakar kertas-kertas. Mau kemana?”tanyaku lirih
Dia berjalan ke arahku.Matanyamulai mengelilingi bara api yang membakar benda-benda kenangan itu dan sepertinya Hani mulai menangkap sesuatu.
“Ohhhh, mas Danang ya?”
Mataku tak bisa menyembunyikan, sejenak aku terbelalak.
“ Kalo masih cinta kenapa dibuang?”
“ Cinta? Engkau tahu darimana jika cinta masih bersemayam di diriku?”aku mencoba membantahnya
“ Jangan mengatakan hal bohong yang sama sekali tak bisa kau tutupi!”iapun tak mau kalah dengan omonganku
Aku diam dan tertunduk sejenak. Cinta iya, tapi kalau menyiksa batin? Lebih baik di buang dan dikubur sampai tak bisa tercium aromanya lagi.
“ Bisakah aku menceritakan tentang mas Danang padamu? Sebab dia telah menceritakan semuanya padaku.”dia membuatku menegakkan kepala lagi
“ Tidak, aku hanya ingin menghapus dirinya dan mengupgrade otakku.”tolakku
“ Yahhh, baiklah.Semoga suatu hari engkau mau mendengarnya dan ku kira engkau juga memerlukannya.”dia masih mencoba merayu pikiranku
Aku tersenyum sejenak sampai dia berpamitan.Ku lambaikan tangan untuk beberapa detik ketika Hani melangkah berjalan pulang.
Malam menyergap, pikiran-pikiran tentang ucapan Hani mulai hinggap di kepala.Ku terawang, dan ternyata hanya ada perasaan penasaran.
“ Apa yang semestinya aku lakukan Tuhan? Baru saja aku mencoba untuk bangkit dari segala keterpurukan, dimana itu layaknya serigala yang dengan sadisnya menyerang.Namun tuturan Hani tadi makin membuat hambamu ini bingung.Sudikah Engkau menjelaskannya tentang ini? Atau berikan sajakunci untuk membuka semua kejadian  yang belum sepenuhnya hamba mengerti ini.”keluhku kepada Tuhan
Ahhhh, sudahlah.Aku juga tak ingin membuang bulir air mataku untuk mengeluh kepada Tuhan hanya demi dia.
“ Hilangkan wajahmu dalam ingatanku, biarkan semua menghilang menjauh. Takkan teringat di dalam kepalaku, malam, dan sepiku.”aku menghibur diri dengan lagu yang mungkin memang pernah menjadi soundtrack hidupku, mengapa aku- The Titans.
Namanya juga kenangan, harusnya memang mempunyai sifat untuk di kenang saja, tidak boleh ada yang dilebihkan.Lebih baik aku beranjak tidur dan menikmati kasur lusuhku. Berharap Tuhan akan memberiku hadiah berupa mimpi bertemu dengan pria sejati malam ini. Pria yang bertutur santun dan lakunya sopan tentunya. Pasrah….
Pagi, setengah delapan tepat.Waktu yang pas pergi ke pasar, panas tak menyengat, jalan tidak terlalu sesak dan udara dinginnyapun tak sejahat pagi tadi.Ku kayuh sepeda ontel mini biruku yang bertulis “phoenix” dengan santai.Begitu menyenangkan, mengontel sambil melihat pohon-pohon yang setia memagari sepanjang jalandengan pewarnaan bunga kuning yang menyeringai ingin menyaingi sinar mentari.
“ Bu, yang ini sekilo 10 ribu ya, sekalian biar uangnya pas.”rayuku pada si mbok tukang sayur
“ Ah si Eneng, mana boleh segitu. Rugi nanti si Mbok.”katanya balik merayuku
“ Iya Bu, masa ini gak boleh sepuluh ribu sekilo?”tiba-tiba ada suara dari sebelah kiriku
“ Ayolah Bu, nanti Si Eneng do’ain biar dagangannya laris manis.”kupasang senyum memelas dan semanis mungkin sambil terus merayu Si Mbok tanpa mempedulikan orang di sebelahku.
“ Kalo 10 ribu lima ratus, Bu? “orang di sebelahku juga tak mau kalah merayu
“ Iya iya, hitung-hitung Mbok sodaqoh sama kalian berdua.”
“ Makasih ya sudah dibantu.”aku menolehkan kepala pelan pada orang yang berada di sampingku
Aku terngangap beberapa detik, bagaimana bisa mas Danang di sini? Ini yang kedua kalinya bertemu dengannya minggu ini, pertanda apa ini Tuhan?
“ Apa kabar, Dek? Lama sekali kita tidak ketemu.”tutur lembutnya mengalun padaku
“Baik, mas.”jawabku kaku
Ku tinggalkan dia dengan kekakuan tanpa pamitan saat belanjaan dari si mbok sudah berada di tangan.Tentu saja aku tak peduli pada pemikiran, apalagi perasaanya ketika ku tinggalkan begitu saja di pasar tadi.Sesekali memang dia harus belajar untuk bersantun meninggalkan seseorang dengan pamitan.
“Semoga ini memang jalan yang Tuhan kehendaki dan semoga jiwaku rela menerimanya,Amin!”
Ku lanjutkan memasak dan berpura-pura tak memikirkannya.Mendengungkan lagu-lagu bahagia, meskipun sebenarnya jiwaku tak mengalaminya.Sebuah tepukan tangan menyentuh bahuku, aku terperenjat.
“ Ada yang nyari, tadi ibu panggil-panggil tak ada jawaban.Kamu gak apa-apakan?”
“ Iya Bu, Dian baik-baik saja. Kalau gitu Dian temuin tamunya dulu.”
Rasa penasaranku mulai bercokol, tumben jam segini ada tamu yang datang, biasanya kalau teman-teman datangnya sore. Ku buka korden yang membatasi meja makan dan ruang tamu, ia tak asing lagi. Sosoknya yang belum aku lupa, Mas Danang.
“ Kalau Mas ke sini hanya untuk bertanya tentang hubungan kita, sebaiknya lupakan! Hubungan itu hilang semenjak Mas juga menghilang.”ku pasang sebuah wajah kekecutan
“ Izinkan aku menjelaskannya dan setelah itu terserah kamu, Dek.”
“ Tidak, mungkin Mas bisa pergi sekarang.”kali ini nada bicaraku begitu kasar layaknya orang yang tak pernah berlajar tata karma sambil mengayunkan tanganku mengarahkan ke pintu keluar
“ Baiklah, Mas mengerti. Tak mudah memang mengembalikan keadaan seperti awal.”ia menghibur dirinya sendiri
Aku tak peduli wajahnya yang bergurat kesedihan karena dia juga tak peduli pada gurat kesedihanku. Melihatnya mulai melangkahkan kaki sampai mengakhirinya dengan menaiki motor membuat kemenangan kecil terayakan di hatiku.
“ Terima Kasih, Tuhan!”
Jum’at pagi terasa berbeda, begitu cerah dan membawa semangat baru.Ku lihat burung-burung mulai menari dan berkicau merdu mendendangkan sebuah tembang untuk kekasih idaman.Mataku tiba-tiba teralihkan, ku lihat Hani menuju ke arahku.
“ Hani? Ada apa, Han? Tentang Mas Danang lagi?”aku tak ingin memberinya kesempatan untuk bercerita tentang laki-laki itu
“Iya, tolong dengarkan sahabatmu ini sebentar!” wajahnya memelas menyisakan teka-teki mendalam
“ Terima kasih Han, tapi tidak. Aku tak ingin mendengarnya lagi, semua yang pernah terjadi dulu, semua kenangan, dan banyak hal tentangnya ingin ku hapus. Aku tak mau hidup dengan bayang-bayang orang yang pernah menggoreskan luka pada jiwaku.”mulutku mencoba berbicara seadanya
“ Aku juga tak ingin dirimu dihantui dengan rasa yang sebenarnya menyiksamu, apalagi harus membuat menangis setiap malam. Tapi kali ini aku memohon, memohon dengan sangat.”dia masih dengan pendiriannya
“ Tidak.”tegasku
“ Aku menyerah, namun bacalah ini! Ini surat yang ditulis Mas Danang sebelum kecelakaan, dia ada di Rumah Sakit sekarang.”katanya diawali dengan sebuah senyum kecil lalu menyodorkan surat itu kepadaku dan mengakhirinya dengan wajah kepasrahan
Aku diam terpaku, tak ingin mendengarnya bertutur lagi, tak ingin mendengar apapun tentang mas Danang meskipun kini dia sedang sakit. Tapi nurani ini tak bisa berbohong, ku ulurkan tangan untuk menerima surat beramplop putih sebagai keputusan final. Tak tahu harus aku apakan benda ini, sedang Hani masih terus memandangiku dengan sorot mata yang begitu kelam lalu meninggalkanku sendiri di ruangan berdinding bambu ini. Dummm, aku membukanya….

                                    Teruntuk Dek Dian                                                             
Sebenarnya mas sendiri juga bingung bagaimana harus memulai menuliskan surat ini. Begitu lama lara mengendap di empedu dan ingin aku keluarkan. 2 tahun sudah, tapi Tuhan baru mempertemukan kita di waktu yang lalu.Dalam kurun waktu yang tak secepat kilat itu, sesungguhnya rindu yang menyayat serta gebuan cinta masih senantiasa bersemi hanya untukmu.
Wajar jika kamu tidak percaya pada apa yang tertulis di atas, tetapi tetap saja jiwa ini harus menjelaskannya,karena tak sedikitpun aku ingin menggoreskan luka di hatimu.
Dulu sebelum berangkat, Mas ingin sekali menelponmu dan bilang bahwa keberangkatan ke Malaysia dipercepat.Waktu tak bisa diajak kompromi, akhirnya Mas memutuskan untuk menghubungimu nanti ketika di perjalanan.
Tapi Tuhan mengatakan lain, handphonenya Mas dicopet ketika mau menelponmu. Naasnya aku belum sempat menghafalnomormu yang ganti sehari sebelumnya. Akhirnya Mas menggunakan cara lain, menitipkan sepucuk surat pada Mas Gugun yang mengantarku ke bandara. Tapi Tuhan telah mentakdirkan lain juga, Mas Gugun meninggal karena bus yang dinaikinya masuk jurang, aku mendapat info itu dari channel Indonesia yang disiarkan di Malaysia. Rumahku dan rumahmu tak ada telepon, mau menghubungimu lewat mana?Dan Adek sendiri begitu anti yang namanya jejaring sosial. Mas sempat stress, tapi do’a untukmu tetap mengalun indah, aku tak berhenti berdo’a kepada sang Pencipta raga untuk menjaga hatimu, meneguhkan rasa yang kita sama-sama miliki dan tentu tangispun tak bisa tidak untuk tertumpah.
Mas pasrah, tak ingin memaksa dirimu mengerti bahkan percaya.Satu hal yang masih jadi keinginan dalam jiwaku yang lemah, yakni mempersuntingmu menjadi istri.
Orang yang selalu menyebutmu dalam do’a, Danang.
Surat itu begitu menggetarkan jiwaku, rasanya dinding pertahanan hati inipun mulai roboh, dan ambrug satu persatu.Bulir-bulir mulai ku rasakan keluar dari retina yang memang sudah tak kuat menahan jatuhnya.Ku dapatkan sebuah keputusan, ku susul mas Danang.
Sesampainya di Rumah Sakit langsung ku ayunkan kaki menuju ruang UGD, namun tak ku dapati izin sang suster yang berada di luar menunggu dokter. Aku memberontak dan berlari masuk ke dalam.
Ku temukan sosok itu….
“ Iya Mas, Dian mau jadi istrinya Mas Danang.”aku mencoba mengatakannya dengan mencoba terus tersenyum meskipun bulir-bulir ini saling mendorong untuk jatuh.
Sekelebatan ku lihat senyum tipisnya Mas Danang, dan aku kira itu adalah pertanda dia berkata “iya“.Malang, Tuhan tak berkata “ya”, Dia tak merestui kami bersatu di dunia.Sedetik saja ku lihat senyum sederhananya sampai saat malaikat menjemputnya.
“ Mas Danang, jangan pergi….”aku berteriak sekencang mungkin dan tak peduli lagi apa-apa
Sosoknya pergi, pergi begitu jauh. . . .

0 comments:

Posting Komentar