Dear
Tuhan,
Padahal
baru saja aku menyusunnya kembali. Mengumpulkan bagian-bagian puzzle hatiku
yang terlalu lama bercecer, lalu menatanya dengan begitu rapi. Tetapi hanya
dengan waktu sekali pandang saja semua berhamburan. Bertemu dengan dia lagi mungkin
bisa ku umpamakan petir yang terus meluncur meskipun hujan sudah berhenti. Dia
memutuskan pergi meninggalkanku secara tiba-tiba dan sakitnya baru saja hilang
7 hari yang lalu setelah 2 tahun mencoba menghilangkannya.Bagaimana aku bisa
sebodoh ini?
Layaknya seorang nelayan yang menghempaskan jaring ke laut, lalu pergi meninggalkannya begitu saja menggunakan perahu dan langsung meluncur ke daratan tanpa ingin tahu nasib jaringnya, begitulah dia. Harusnya yang namanya manusia itu memanusiakan manusia dan sadar kedudukannya sebagai manusia.
Layaknya seorang nelayan yang menghempaskan jaring ke laut, lalu pergi meninggalkannya begitu saja menggunakan perahu dan langsung meluncur ke daratan tanpa ingin tahu nasib jaringnya, begitulah dia. Harusnya yang namanya manusia itu memanusiakan manusia dan sadar kedudukannya sebagai manusia.
“
Heiiii, sudahlah!!! Untuk apa mengingat dia yang sudah jelas lelaki bukan
idaman.”makiku pada diri sendiri
Aku
mengambil guling yang sedari tadi tergeletak tak berdaya di atas kasur berseprai
katun coklat keabuan, lalu kubungkam retina agar tak mengeluarkan butira-butiran
bening. Sudah ku kerahkan tanganku beserta guling, tapi butiran-butiran ini
masih bisa menerobos dinding pertahanan mata.Toss, suaranya lembut hampir tak
terdengar.
Hmmmm,
yang namanya move on tetap move on, kata-kata tak boleh ditarik
kembali, kecuali jika Tuhan berkehendak mempersatukan kami.
“
In another live, I would make you stay, so I don’t have to say, you were the
one that got away. “
Aku
melipur lara dengan menggelar sebuah konser kecil di kamar mandi bersama
lagunya Katy Perry, tak apa kalau
yang mendengarkan hanya botol-botol shampoo dan sabun cair, atau mic gayung
warna merah yang sedang aku gunakan.
Dan
siiiittt, tiba-tiba berkelebatan bayangannya di mimpiku, dan menemaniku sampai
jam 2 dini hari ketika aku terbangun.Padahal sampai usiaku 20 tahun, tak ada
“pacar” yang bisa masuk ke mimpiku, apalagi sampai membuatku menangis tak
karuan layaknya bayi yang sangat kehausan ingin minum susu. Langka….
Pagi
yang cerah datang, mari membakar catatan-catatan diary yang bertuliskan tentang
pribadinya juga foto-foto yang telah lama aku usangkan di kardus belakang. Semua
kenangan harus dibuang agar bisa secepatnya pula aku beranjak dari
bayangannnya.Hal penting juga adalah menghapus kontaknya dari buku telepon yang
mungkin memang sengaja tak diaktifkannya.
“
Dian, lagi ngapain kamu?”suara Hani terdengar dari kejauhan memekakkan telinga
“
Ini lagi bakar kertas-kertas. Mau kemana?”tanyaku lirih
Dia
berjalan ke arahku.Matanyamulai mengelilingi bara api yang membakar benda-benda
kenangan itu dan sepertinya Hani mulai menangkap sesuatu.
“Ohhhh,
mas Danang ya?”
Mataku
tak bisa menyembunyikan, sejenak aku terbelalak.
“
Kalo masih cinta kenapa dibuang?”
“
Cinta? Engkau tahu darimana jika cinta masih bersemayam di diriku?”aku mencoba
membantahnya
“
Jangan mengatakan hal bohong yang sama sekali tak bisa kau tutupi!”iapun tak
mau kalah dengan omonganku
Aku
diam dan tertunduk sejenak. Cinta iya, tapi kalau menyiksa batin? Lebih baik di
buang dan dikubur sampai tak bisa tercium aromanya lagi.
“
Bisakah aku menceritakan tentang mas Danang padamu? Sebab dia telah
menceritakan semuanya padaku.”dia membuatku menegakkan kepala lagi
“
Tidak, aku hanya ingin menghapus dirinya dan mengupgrade otakku.”tolakku
“
Yahhh, baiklah.Semoga suatu hari engkau mau mendengarnya dan ku kira engkau
juga memerlukannya.”dia masih mencoba merayu pikiranku
Aku
tersenyum sejenak sampai dia berpamitan.Ku lambaikan tangan untuk beberapa
detik ketika Hani melangkah berjalan pulang.
Malam
menyergap, pikiran-pikiran tentang ucapan Hani mulai hinggap di kepala.Ku
terawang, dan ternyata hanya ada perasaan penasaran.
“
Apa yang semestinya aku lakukan Tuhan? Baru saja aku mencoba untuk bangkit dari
segala keterpurukan, dimana itu layaknya serigala yang dengan sadisnya
menyerang.Namun tuturan Hani tadi makin membuat hambamu ini bingung.Sudikah
Engkau menjelaskannya tentang ini? Atau berikan sajakunci untuk membuka semua
kejadian yang belum sepenuhnya hamba mengerti
ini.”keluhku kepada Tuhan
Ahhhh,
sudahlah.Aku juga tak ingin membuang bulir air mataku untuk mengeluh kepada Tuhan
hanya demi dia.
“
Hilangkan wajahmu dalam ingatanku, biarkan semua menghilang menjauh. Takkan
teringat di dalam kepalaku, malam, dan sepiku.”aku menghibur diri dengan lagu
yang mungkin memang pernah menjadi soundtrack hidupku, mengapa aku- The Titans.
Namanya
juga kenangan, harusnya memang mempunyai sifat untuk di kenang saja, tidak
boleh ada yang dilebihkan.Lebih baik aku beranjak tidur dan menikmati kasur
lusuhku. Berharap Tuhan akan memberiku hadiah berupa mimpi bertemu dengan pria
sejati malam ini. Pria yang bertutur santun dan lakunya sopan tentunya.
Pasrah….
Pagi,
setengah delapan tepat.Waktu yang pas pergi ke pasar, panas tak menyengat, jalan
tidak terlalu sesak dan udara dinginnyapun tak sejahat pagi tadi.Ku kayuh
sepeda ontel mini biruku yang bertulis “phoenix” dengan santai.Begitu
menyenangkan, mengontel sambil melihat pohon-pohon yang setia memagari
sepanjang jalandengan pewarnaan bunga kuning yang menyeringai ingin menyaingi
sinar mentari.
“
Bu, yang ini sekilo 10 ribu ya, sekalian biar uangnya pas.”rayuku pada si mbok
tukang sayur
“
Ah si Eneng, mana boleh segitu. Rugi nanti si Mbok.”katanya balik merayuku
“
Iya Bu, masa ini gak boleh sepuluh ribu sekilo?”tiba-tiba ada suara dari
sebelah kiriku
“
Ayolah Bu, nanti Si Eneng do’ain biar dagangannya laris manis.”kupasang senyum
memelas dan semanis mungkin sambil terus merayu Si Mbok tanpa mempedulikan
orang di sebelahku.
“
Kalo 10 ribu lima ratus, Bu? “orang di sebelahku juga tak mau kalah merayu
“
Iya iya, hitung-hitung Mbok sodaqoh sama kalian berdua.”
“
Makasih ya sudah dibantu.”aku menolehkan kepala pelan pada orang yang berada di
sampingku
Aku
terngangap beberapa detik, bagaimana bisa mas Danang di sini? Ini yang kedua
kalinya bertemu dengannya minggu ini, pertanda apa ini Tuhan?
“
Apa kabar, Dek? Lama sekali kita tidak ketemu.”tutur lembutnya mengalun padaku
“Baik,
mas.”jawabku kaku
Ku
tinggalkan dia dengan kekakuan tanpa pamitan saat belanjaan dari si mbok sudah
berada di tangan.Tentu saja aku tak peduli pada pemikiran, apalagi perasaanya
ketika ku tinggalkan begitu saja di pasar tadi.Sesekali memang dia harus
belajar untuk bersantun meninggalkan seseorang dengan pamitan.
“Semoga
ini memang jalan yang Tuhan kehendaki dan semoga jiwaku rela menerimanya,Amin!”
Ku
lanjutkan memasak dan berpura-pura tak memikirkannya.Mendengungkan lagu-lagu
bahagia, meskipun sebenarnya jiwaku tak mengalaminya.Sebuah tepukan tangan menyentuh
bahuku, aku terperenjat.
“
Ada yang nyari, tadi ibu panggil-panggil tak ada jawaban.Kamu gak apa-apakan?”
“
Iya Bu, Dian baik-baik saja. Kalau gitu Dian temuin tamunya dulu.”
Rasa
penasaranku mulai bercokol, tumben jam segini ada tamu yang datang, biasanya
kalau teman-teman datangnya sore. Ku buka korden yang membatasi meja makan dan
ruang tamu, ia tak asing lagi. Sosoknya yang belum aku lupa, Mas Danang.
“
Kalau Mas ke sini hanya untuk bertanya tentang hubungan kita, sebaiknya lupakan!
Hubungan itu hilang semenjak Mas juga menghilang.”ku pasang sebuah wajah
kekecutan
“
Izinkan aku menjelaskannya dan setelah itu terserah kamu, Dek.”
“
Tidak, mungkin Mas bisa pergi sekarang.”kali ini nada bicaraku begitu kasar
layaknya orang yang tak pernah berlajar tata karma sambil mengayunkan tanganku
mengarahkan ke pintu keluar
“
Baiklah, Mas mengerti. Tak mudah memang mengembalikan keadaan seperti awal.”ia
menghibur dirinya sendiri
Aku
tak peduli wajahnya yang bergurat kesedihan karena dia juga tak peduli pada gurat
kesedihanku. Melihatnya mulai melangkahkan kaki sampai mengakhirinya dengan
menaiki motor membuat kemenangan kecil terayakan di hatiku.
“
Terima Kasih, Tuhan!”
Jum’at
pagi terasa berbeda, begitu cerah dan membawa semangat baru.Ku lihat burung-burung
mulai menari dan berkicau merdu mendendangkan sebuah tembang untuk kekasih
idaman.Mataku tiba-tiba teralihkan, ku lihat Hani menuju ke arahku.
“
Hani? Ada apa, Han? Tentang Mas Danang lagi?”aku tak ingin memberinya
kesempatan untuk bercerita tentang laki-laki itu
“Iya,
tolong dengarkan sahabatmu ini sebentar!” wajahnya memelas menyisakan teka-teki
mendalam
“
Terima kasih Han, tapi tidak. Aku tak ingin mendengarnya lagi, semua yang
pernah terjadi dulu, semua kenangan, dan banyak hal tentangnya ingin ku hapus.
Aku tak mau hidup dengan bayang-bayang orang yang pernah menggoreskan luka pada
jiwaku.”mulutku mencoba berbicara seadanya
“
Aku juga tak ingin dirimu dihantui dengan rasa yang sebenarnya menyiksamu,
apalagi harus membuat menangis setiap malam. Tapi kali ini aku memohon, memohon
dengan sangat.”dia masih dengan pendiriannya
“
Tidak.”tegasku
“
Aku menyerah, namun bacalah ini! Ini surat yang ditulis Mas Danang sebelum
kecelakaan, dia ada di Rumah Sakit sekarang.”katanya diawali dengan sebuah
senyum kecil lalu menyodorkan surat itu kepadaku dan mengakhirinya dengan wajah
kepasrahan
Aku
diam terpaku, tak ingin mendengarnya bertutur lagi, tak ingin mendengar apapun
tentang mas Danang meskipun kini dia sedang sakit. Tapi nurani ini tak bisa
berbohong, ku ulurkan tangan untuk menerima surat beramplop putih sebagai
keputusan final. Tak tahu harus aku apakan benda ini, sedang Hani masih terus
memandangiku dengan sorot mata yang begitu kelam lalu meninggalkanku sendiri di
ruangan berdinding bambu ini. Dummm, aku membukanya….
Teruntuk Dek
Dian
Sebenarnya
mas sendiri juga bingung bagaimana harus memulai menuliskan surat ini. Begitu lama
lara mengendap di empedu dan ingin aku keluarkan. 2 tahun sudah, tapi Tuhan
baru mempertemukan kita di waktu yang lalu.Dalam kurun waktu yang tak secepat
kilat itu, sesungguhnya rindu yang menyayat serta gebuan cinta masih senantiasa
bersemi hanya untukmu.
Wajar
jika kamu tidak percaya pada apa yang tertulis di atas, tetapi tetap saja jiwa
ini harus menjelaskannya,karena tak sedikitpun aku ingin menggoreskan luka di
hatimu.
Dulu
sebelum berangkat, Mas ingin sekali menelponmu dan bilang bahwa keberangkatan
ke Malaysia dipercepat.Waktu tak bisa diajak kompromi, akhirnya Mas memutuskan
untuk menghubungimu nanti ketika di perjalanan.
Tapi
Tuhan mengatakan lain, handphonenya Mas dicopet ketika mau menelponmu. Naasnya
aku belum sempat menghafalnomormu yang ganti sehari sebelumnya. Akhirnya Mas
menggunakan cara lain, menitipkan sepucuk surat pada Mas Gugun yang mengantarku
ke bandara. Tapi Tuhan telah mentakdirkan lain juga, Mas Gugun meninggal karena
bus yang dinaikinya masuk jurang, aku mendapat info itu dari channel Indonesia
yang disiarkan di Malaysia. Rumahku dan rumahmu tak ada telepon, mau
menghubungimu lewat mana?Dan Adek sendiri begitu anti yang namanya jejaring sosial.
Mas sempat stress, tapi do’a untukmu tetap mengalun indah, aku tak berhenti
berdo’a kepada sang Pencipta raga untuk menjaga hatimu, meneguhkan rasa yang
kita sama-sama miliki dan tentu tangispun tak bisa tidak untuk tertumpah.
Mas
pasrah, tak ingin memaksa dirimu mengerti bahkan percaya.Satu hal yang masih
jadi keinginan dalam jiwaku yang lemah, yakni mempersuntingmu menjadi istri.
Orang yang selalu menyebutmu dalam do’a, Danang.
Surat
itu begitu menggetarkan jiwaku, rasanya dinding pertahanan hati inipun mulai
roboh, dan ambrug satu persatu.Bulir-bulir mulai ku rasakan keluar dari retina
yang memang sudah tak kuat menahan jatuhnya.Ku dapatkan sebuah keputusan, ku
susul mas Danang.
Sesampainya
di Rumah Sakit langsung ku ayunkan kaki menuju ruang UGD, namun tak ku dapati
izin sang suster yang berada di luar menunggu dokter. Aku memberontak dan
berlari masuk ke dalam.
Ku
temukan sosok itu….
“
Iya Mas, Dian mau jadi istrinya Mas Danang.”aku mencoba mengatakannya dengan
mencoba terus tersenyum meskipun bulir-bulir ini saling mendorong untuk jatuh.
Sekelebatan
ku lihat senyum tipisnya Mas Danang, dan aku kira itu adalah pertanda dia
berkata “iya“.Malang, Tuhan tak berkata “ya”, Dia tak merestui kami bersatu di
dunia.Sedetik saja ku lihat senyum sederhananya sampai saat malaikat
menjemputnya.
“
Mas Danang, jangan pergi….”aku berteriak sekencang mungkin dan tak peduli lagi
apa-apa
Sosoknya
pergi, pergi begitu jauh. . . .







0 comments:
Posting Komentar