Waktu sudah pukul setengah sepuluh lewat, tapi si bujang yang satu ini masih saja ngiler, bikin pulau-pulau kecil di atas bantal bersarung pink.Ini pasti terjadi tiap pagi, kecuali hari Minggu, saat terbaiknya untuk ngeceng di pertigaan gang.
“ Im, Boim…. Bangun!!! Tuch, lele-lelemu udah pada nunggu dikasih makan.”kata Emak teriak-teriak, kerasnya minta ampun
“ Iya Mak, satu jam lagi Boim bangun”jawabnya santai
“ Duh Gusti…. Punya anak satu-satunya, laki-laki pula, tapi kelakuannya sama ja dengan si Meong, tidur seenaknya.”Emak marah-marah
Ubun-ubun rasanya makin panas,sebuah ember berukuran sedang berwarna hijau tua yang sudah berisi air keran belakang dibawa Emak ke kamarnya Boim. Byur...
“ Bangun, gak? Sana nyapu halaman!”suruh Emak
“ Ah Emak ini, Boim masih ngantuk.”
“ Dasar kamu ya….”Emak makin marah dan mencubit perut buncitnya Boim
Dengan mata ngantuk dosis berat, diambilnya sapu dan mulai menyapu halaman kecilnya yang dikotori daun mangga golek yang tidak pernah tidak jatuh.Dan dia masih ongkang-ongkang diteras rumah sesaat setelah menyapu halaman.Wajahnya sih kelihatan serius, lagi memikirkan persoalan yang mendalam gitu.
“ Im, kamu dimana?”suara Emak memecah kesunyian
Boim tak menyahut, dia masih dengan wajah sok seriusnya.Gara-gara si bujang tak juga menyahut, akhirnya sapu lidi kecil yang biasanya digunakan Emak untuk bersihin kasur, dikempitnya di ketiak dan mencari sang anak.
“ Au, aduh…. Ampun, Mak”ucap Boim ketika sapu lidi melayang ke arahnya.
“ Ampun-ampun, dipanggil gak nyahut-nyahut.”
“ Capek, Mak.”Boim memelas pada Emak
“ Capek? Cuma nyapu halaman 6x7 meter aja capek. Sana lele-lelemu kasih makan.”suruh Emak
Boim beranjak dari kursi rotannya yang sudah sepuh, menuju ke belakang rumah.Meski langkahnya gontai, dan sempat beberapa kali menabrak tiang, tetapi dia masih tetap berjalan.
“ Jadi kalian itu emang enak, ya? Gak usah mikir dibangunin Emak tiap pagi, bahkan harus disiram pake air.Dan yang paling penting, kalian itu gak usah mikir yang namanya ‘cinta’.”ajaknya bicara pada lele-lele yang berada dikolam
Dengan vespa warna hijau toscanya dia pergi kampus sesaat setelah tugasnya selesai. Tak lupanya helm hitam bergaris putih yang baunya bisa membuat orang lain pingsan yang begitu dia sayang, dipakai dikepalanya yang berambut keriting.
“ Woi Bro, masih betah ja sama ‘si Luphy’.”sapa seorang temanpadanya saat sampai di kampus
“ Iya dong, dia nich soulmate sejati.”sambil mengelus-ngelus vespa tuanya
“ Soulmate sejati, gara-gara gak punya pacar. Haha….”goda Dimas
Seorang wanita berkulit putih dan memakai kaos ungu lewat di sampingnya.Maklum, si Bujang satu ini lagi getol-getolnya dan berusaha keras untuk mendapatkan seorang pacar.
“ Dia Ita, anak semester 4 psikologi.”ujarDimas saat mengetahui mata Boim bergeliat
“ Dua bulan yang lalu aku udah kenal dia. Dan yang perlu diingat adalah aku gak bakal sms dia.“Boim sok jaim.“Kamu tahu gak sieh, dia itu jahat banget sama aku.”Boim menirukan gaya ngomong ala cewek
“ Jahat gimana?”Dimas penasaran
“ Dia bilang “ dasar laki-laki yang gak laku-laku dan penuh liku-liku….”
“ Ckakakak....”Dimas tak bisa menahan tawa
“Dulu itu aku lihat dia pertama kali di warungnya Bang Joni, terus aku sering ketemu, jadi suka dech.Tapi mulai sekarang, aku dan ‘cinta’adalah musuh bebuyutan. Cinta itu teloo….”katanya mantap
“ Wah , hati-hati! Kualat nanti kamu, Im.”peringat sahabatnya
“ Ah, gak peduli. Hamper seluruh cewek yang ada di kampus ini, gak ada yang mau jadi pacarku. Kenapa sieh? Karena aku keriting, selalu naik vespa tiap kuliah, ato gara-gara aku miskin?” ucapnya mulai memelas dengan wajah polos
“ Bukan, Bro.”dengan wajah serius. “Tapi karena wajahmu itu lhoh, yang terlalu jelek, hihihi…. Peace!
“ Sekali telo tetap telo. Daripada mikirin itu, mending mikir gimana caranya bayar kuliah.”
“ Kebetulan banget, toko bangunan milik pak dheku lagi butuh pekerja.”
Hari Minggu yang biasanya dia gunakan buat mejeng di pertigaan Gang sawo kecik, digantinya dengan pekerjaan angkat semen dan batu di toko bangunan pak dhenya Dimas. Atau di hari lain, dia harus bangun jam enam pagi untuk kerja.
“ Ternyata kerja itu gak gampang, apalagi perempuan seperti Emak. Mulai sekarang aku janji, akan sungguh-sunggh dan gak nakal-nakal lagi.”
Saat sore tiba, dia sudah berada di tempat parkir, dan bersiap untuk menaiki ‘ si Luphy’. Akan tetapi seorang hawa berparas manis mampir di penglihatannya.
“ Siapa dia, hey hey....”suara falsnya mulai keluar
Di malam harinya, di kamarnya yang sempit dan berantakan, Boim merenung sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangan diatas bantal dan berbaring.Dilihatnya lekat-lekat lampu bercahaya kuning 10 watt dengan penglihatan kosong.Sepertinya bukan, si Bujang ini sedang memikirkan sesuatu.
“ Tuhan, apa iya aku kualat? Sebenarnya itu siapa ya, dia begitu manis. Membuat hatiku jadi MTDDS, Mak Tratap Deg-Deg Seeerrrr….” Ah, sekali telo tetap telo.”katanya sendiri membuyarkan lamunannya
Hari Senin yang begitu panas, tapi Boim masih tetap menancapkan gasnya menuju kampus, sekalipun itu pelajarannya Pak Mono, dosen Bahasa Inggrisnya.Pelajaran dari kecil yangpaling dia benci, dan tidak pernah dapat nilai di atas enam.Saat sampai kelas, anak-anak lagi pada ribut.Tidak biasanyakelasnya Pak Mono seperti ini.
“Wah Pak Mono kok gak hadir, padahal diriku mau minta maaf. Beliau sakit apa sieh?”Boim penasaran
“ Operasi kantong kemih. Tumben….”komentar Dimas.“ Wah, kesambet jin di toko pak dheku, ya?”diiringi tawa
“Masa jin kesambet jin?”
Makin lama kelas makin ricuh, tiba-tiba terhenti oleh kedatangan seorang wanita yang berpakaian rapi, dan berjas hitam dipadu dengan rok warna abu-abu dari balik pintu
“Siang semuanya!”memulai pembicaraan
“ Siang!”teriak anak-anak
“Perkenalkan saya adalah Aurelia Tritatiya. Berhubung Pak Mono tidak bisa hadir, jadi untuk beberapa pertemuan akan digantikan oleh saya,” jelas Bu Lia.
“ Wah, selamanya juga gak pa-pa Bu. Udah punya pacar belum, Bu?”
“ Iya Bu, mau dong daftar,” kata mahasiswa yang lain.
“Kenapa harus ketemu dia lagi sieh? Dasar telo….,” Boim marah-marah sendiri.
Geger dan pada ricuh saat menyambut kedatangan Bu Lia. Apalagi ketika mereka tahu kalau Bu Lia belum punya pacar, makin rame deh.
“ Jadi gerund itu seperti V+ing. Contohnya tadi, ‘the good writing’,” kata Bu Lia di tengah pelajaran sambil menuliskan kata tersebut.
“ Yang berambut keriting duduk di bangku paling belakang, tadi contohnya apa?” tanya Bu Lia saat mengetahui Boim sedang asyik ngobrol sendiri.
“Writing, alias write ples ing. Wah, itu tetangga depan rumah saya, Bu.”
Karena dia membaca tanpa logat bahasa Inggris yang benar dan disertai guyonan spontan, otomatis para mahasiswa lain pada ngakak.
“Tenang semuanya! Sepertinya Anda kurang konsentrasi, untuk itu mungkin Anda harus sedikit berolahraga. Silakan berdiri didepan kelas sampai pelajaran saya selesai,” tegas Bu Lia.
“Ya sudahlah Bu, kali aja tambah kurus,” pasrah si Bujang.
Seusai jam kuliah, Boim dan Dimas pergi menjenguk Pak Mono dengan mengajak si Luphy. Dengan gaya Boim yang slengekan, dia cuek-cuek saja saat para penghuni RS melihat ke arahnya, termasuk para suster. Bukan karena kagum, tapi karena sandal jepit Emak yang dipakai Boim. Saat para suster sedang sibuk melihat sandal jepit bunga-bunganya, tak sengaja matanya menatap sebuah dompet jatuh dari tas seorang wanita.
“Eh, mau kemana Im?“ kata Dimas saat ditarik tangannya oleh Boim.
“Udahhh, yang ini darurat Bro.”
Tangan Boim mengambil dompet tersebut dan mengikuti langkah wanita yang menjatuhkannya sampai tiba di sebuah ruang VVIP.
“Permisi,” kata Boim dari luar.
“Iya, siapa?” jawab seseorang dengan wajah yang tak asing.
Tetapi pandangan mereka beralih pada sesosok laki-laki yang menjadi tujuan mereka berkunjung ke Rumah Sakit.
“Pak Mono?” heran mereka serentak.
Pak Mono sendiri tak menyangka kalau 2 muridnya yang biasanya bikin ricuh di kelas akan datang.
“Wah, terima kasih sekali lho saya ditengokin,” sambut Pak Mono sambil memberikan sebuah senyum ketulusan.
“ Ah, gak apa-apa kok, Pak,” timpal Dimas ketika dia dan Boim berada di dekat beliau.
“Maaf mas, sepertinya itu dompet saya”. Seseorang tiba-tiba berbicara ketika langkah kakinya berhenti di dekat mereka.
“ Perkenalkan ini Lia, anak sulung sekaligus asdos saya,” sahut beliau.
Dimas dan Boim tak percaya bahwa seorang hawa yang ada di depan mereka adalah anak dari seorang dosen yang pernah mereka juluki “KILLER” sebelumnya. Hanya sebentar saja mereka bercengkrama sampai saat Bu Lia memutuskan untuk pulang.
“ Lia, tunggu!” panggil pak Mono saat anaknya sudah di ambang pintu keluar. “Memangnya kamu tahu caranya naik bis?”
Pak Mono langsung menyambung omongannya setelah berpikir sejenak.
“Mungkin salah satu dari kalian ada yang mau nganterin anak saya?” kata Pak Mono sambil melihat Boim dan Dimas.
“Boim mau, Pak”. Dimas langsung angkat bicara.
Dengan tundukan kepala yang dicampuri sedikit unsur kesungkanan, akhirnya dia mengambil motor dari parkiran.
“Kalo boleh tahu, selain kuliah, kegiatan apa saja yang kamu lakukan di luar rumah?” Bu Lia membuka pembicaraan.
“Saya nyambi kerja, Bu,” jawabBoim ringan
“Wah, hebat ya. Anak muda seperti kamu sudah bisa dan mau bekerja”.
“Saya tidak muda lagi, umur saya 25 tahun. Soalnya pas lulus SMA tidak langsung kuliah”.
“Saya juga baru 25. Ngomong-ngomong, tidak ada yang marahkan kalau saya bonceng kamu?” Bu Lia mulai mengeluarkan taste humornya.
“ Mana ada Bu yang suka laki-laki gendut, keriting, dan penyuka lele seperti saya….” kata Boim panjang lebar
“Lele? Wah kebetulan saya juga lagi cari bibit lele buat koleksi ikan di kolam. Kapan-kapan saya boleh main, ya?”pinta si manis ramah
Boim hanya menganggukkan kepala, meskipun ada pesta kemenangan kecil yang bersorak sorai di hatinya. Tiga hari kemudian, Bu Lia memenuhi janjinya untuk main ke rumah Boim.
“Mari masuk Bu, saya tinggal ke belakang sebentar.”ucap Boim
Karena saking tak sabarnya, beliau mencari-cari kolam yang dimaksud oleh Boim sendirian. Jalan menuju belakang rumah dilewati pelan sampai akhirnya menemukan apa yang dia cari.
“ Jadi ini kolamnya? Wah lelenya banyak sekali.”
Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara meongan yang cukup keras dari binatang yang memang membuatnya takut sejak kecil, si Meong, kucing kesayangan Emak. Saking kaget dan syoknya. Dia jatuh ke kolam tersebut. Boim yang mendengar suara jeritan segera lari ke sumber asalnya. Tanpa pikir panjang lagi, dia menjeburkan badannya yang barusan mandi ke dalam air. Bu Lia yang pingsan dibawa ke kamar Emak untuk diganti bajunya. Setelah sekitar 10 menitan, akhirnya beliau sadar.
“Wah, cantik,” katanya dalam hati ketika matanya ½ tertutup karena ketiduran.
Sosok Bu Lia yang biasanya memakai pakaian resmi berjas, kini berubah menjadi gadis kampung yang lugu nan polos mengenakan baju Emak waktu muda dulu.
“Permisi!” ucap seseorang dari balik pintu.
“Masuk Pak Maman!” ujar beliau ketika mengetahui sang sopir datang setelah membeli rokok.
Saatnya pulang, beberapa kali Pak Mono sudah menelpon. Sebuah senyum terlempar pada Boim dan sejenak keduanya berpandangan di dekat pintu luar.
“Jangan kapok main ke sini lagi ya, Bu!” pinta Emak yang menghentikan pandangan keduanya.
“Iya Emak. Terima kasih ya Im untuk musik dengkurannya yang bisa membuatku terbangun dari pingsan,” hanya dibalas dengan senyum sungkan dari Boim.
Entahlah kenapa, dalam hati Boim sedang terjadi pertempuran.Dan sepertinya sang Hawa juga merasakan yang sama yang tak jauh dari Boim.
“ Balik arah Bu, balik arah.”dalam hati Boim begitu menggebu.
Tak dinyana, wanita yang kini mulai menyesaki relungnya menoleh dan senyuman manis satu lagi untuk Boim.







0 comments:
Posting Komentar