Jeder…, suara pintu yang baru saja kubanting dengan begitu
keras
“Kenapa, Da?” Tanya Emak.
“Ban sepeda Ida bocor Mak, dan sepanjang jalan harus nuntun
gara-gara gak ada uang untuk membawanya ke bengkel.” cerocosku.
“Sabar ya Nak, Emak memang tidak bisa memberimu uang saku
lebih.” ucap beliau sambil mengelus punggungku
“Tapi setidaknya Emak bisa melebihkannya sedikit.” nada suaraku
mulai agak meninggi
“Harusnya kamu bersyukur, kamu masih bisa sekolah meski dengan
uang saku yang kurang.” nasehat Emak.
Aku hanya cemberut dan tak menggubris perkataan Emak
“Makanlah, ada ayam goreng kesukaanmu di meja makan.
Kebetulan, masih ada uang sisa dari jualan kue keliling” Ada senyum yang
terpasang
Aku menatap mata Emak lekat-lekat ada ketulusan di sana. Ahh….,
tidak seharusnya aku berkata kasar pada beliau.






0 comments:
Posting Komentar