Nilai akan dipengaruhi oleh keaktifan
dirinya di kelas, nilai UTS (Ujian Tengah Semester) serta UAS (Ujian Akhir Semester)nya.
Kalau absen yg lebih dari empat, itulah
yang akan jadi pertimbangan atau mengurangi nilainya nanti.
Hal ini berbeda jika dia ternyata menghabiskan 4 absen dan ditambah hari lainnya karena sakit. Maka saya akan memberinya izin, karena sakit itu alami dan tidak bisa ditebak kapan datang. Saya tidak mau membebani hanya karena dia ikut Mid susulan atau UAS susulan, kemudian saya memberinya nilai lebih rendah atau melakukan segala tindakan diskriminasi lainnya.
Saya berharap menjadi dosen yang baik, terlebih bisa lebih baik dari dosen-dosen yang saya anggap baik selama ini. Amin. Saya ingin menjadi pendengar yang baik bagi mahasiswa, menjadi kawan. Kawan yang mana mereka bisa bebas bercerita atau mengobrol atau bertanya bahkan berdebat dengan saya tanpa mengurangi batas-batas kesopanan antara dosen dan mahasiswa.
Saya berharap saya tidak menjadi dosen yang punyak hak penuh terhadap mahasiswa. Sebagai misal, saya tidak mau memaksa pendapat mereka agar sama dengan saya. Saya tidak mewajibkan mereka harus terus sama pemikirannya dengan saya. Justru yang wajib adalah mereka mengeluarkan pendapat, entah itu sama maupun berbeda dengan saya. Hal ini akan menambah wawasan ataupun tehnik pola pikir yang selama ini saya terapkan. Ini juga bisa menjadi bahkan koreksi sekaligus introspeksi bagi saya pribadi (Oh begitu ya? Sepertinya ada yang salah dengan pola pikir saya selama ini. Ah, terima kasih mahasiswa)
Saya tidak ingin mereka hanya manut atau malah jad Yes Man yang selalu mengangguk-angguk ketika saya ngomong. Terlebih jika itu dilakukan hanya untuk mendapat nilai yang bagus. Kalau seperti itu, ini sudah seperti pembungkaman massal bagi mahasiswa. Bahkan saya sudah menjadi seorang dosen otoriter yang sama sekali tidak memberi kebebasan mahasiswanya berpendapat. NO. Saya penolak rezim otoriter.
Saya tidak mau pemikiran mahasiswa saya nanti jadi tumpul karena aturan dan kebijakan bodoh yang saya buat. Untuk apa saya jadi dosen jika nantinya mahasiswa saya hanya jalan di tempat, tidak kemana-mana. Pemikiran mereka jadi dangkal dan tidak berbobot sama sekali.
Satu lagi, pengontrolan emosi terhadap mahasiswa yang tidak sependapat atau bahkan nakal. Harus diingat bahwa dosen itu juga "Guru" Digugu dan Ditiru. Kalau saya emosian dan susah mendengar orang yang berbeda pemikiran, bagaimana dengan sikap mahasiswa saya nantinya? Barangkali mereka akan lebih parah dari tindakan saya.
Ah, barangkali itu saja dulu. Sebagai prinsip, dosen adalah sosok bijak yang mengajari kebijakan (harusnya begitu).







Pengen jadi dosen?? Tamanni atau taraji???
BalasHapusinjenuitas.blogspot.com
Mantap
BalasHapusKang Ali Mahmudi
BalasHapusIni sebenarnya curhatan alias kisah pribadi yang kemudian jadi artikel :D
Blognya keren
Kak Waki Ats Tsaqofi
BalasHapusSuhu blognya datang. Trm ksh :D :D